Ilmuwan Kembangkan Nyamuk Rekayasa Genetik demi Hapus Penyakit Mematikan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Jul 2026, 11:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi nyamuk Ilustrasi nyamuk (Pixabay)

Ntvnews.id, Kampala - Sekelompok ilmuwan di Uganda tengah mengembangkan pendekatan baru untuk memerangi malaria, salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Melalui rekayasa genetika terhadap nyamuk Anopheles, para peneliti berharap dapat menghentikan penyebaran penyakit yang setiap tahun merenggut ratusan ribu nyawa, terutama anak-anak di Afrika.

Dilansir dari BBC, Senin, 20 Juli 2026, menyebut di laboratorium berkeamanan tinggi milik Institut Virus Uganda, para peneliti memelihara ratusan nyamuk Anopheles yang telah dimodifikasi secara genetik. Salah satu peneliti, Angela Nakamura, menjelaskan bahwa seluruh prosedur dilakukan dengan standar keselamatan yang ketat.

"Sebelum mulai, aku harus memastikan mematuhi aturan keselamatan," jelas peneliti serangga Uganda itu, "termasuk memakai sarung tangan dan jas laboratorium untuk menghindari gigitan nyamuk!"

Untuk mempertahankan siklus hidup nyamuk yang diteliti, tim laboratorium memberi makan nyamuk dewasa menggunakan darah manusia dari bank darah yang dipanaskan hingga menyerupai suhu tubuh manusia.

"Agar mereka bertelur, kami harus memberi makan nyamuk dewasa selama tiga hari dengan darah," jelas Nakamura.

Setelah proses tersebut selesai, para peneliti menunggu nyamuk bertelur sebelum telur-telur itu dipindahkan ke media penetasan.

"Keesokan harinya, kami menanti telur-telur nyamuk dan kami sudah menyiapkan tempat penetasan telur-telur itu," tambahnya.

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 263 juta kasus malaria terjadi setiap tahun, dengan sekitar 94 persen di antaranya berada di Afrika.

Di Indonesia, malaria juga masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat 443.530 kasus malaria pada 2022, dengan sekitar 89 persen kasus berasal dari Provinsi Papua.

Upaya yang dilakukan para ilmuwan Uganda merupakan bagian dari proyek internasional Target Malaria, yang melibatkan lebih dari 200 peneliti dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Italia, dan Burkina Faso.

Kepala Departemen Penelitian Serangga Institut Virus Uganda, Jonathan Kayondo, menjelaskan bahwa teknologi rekayasa genetika digunakan untuk meningkatkan proporsi nyamuk jantan dalam populasi.

"Dengan memanipulasi satu gen, kami bisa meningkatkan jumlah nyamuk jantan," jelas peneliti serangga itu.

Baca Juga: Sejarah! Nyamuk Kini Hidup di Islandia

Menurut Kayondo, jika dalam beberapa generasi jumlah nyamuk jantan terus mendominasi, maka populasi nyamuk betina akan berkurang drastis sehingga rantai penularan malaria dapat diputus.

"maka transmisi malaria akan terhenti karena hanya nyamuk betina yang menggigit dan menyebarkan penyakit."

Saat ini, nyamuk hasil rekayasa genetika tersebut masih menjalani serangkaian pengujian keamanan sebelum dilepas ke alam bebas. Larva nyamuk telah dikirim dari laboratorium Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat ke Uganda untuk menjalani penelitian lanjutan.

Kayondo menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar mengubah gen nyamuk, tetapi memastikan teknologi tersebut aman bagi lingkungan.

"Modifikasi gen mungkin bagian termudah," jelas Kayondo.

Ia menambahkan bahwa setiap perubahan genetik harus dipastikan tidak menimbulkan dampak lain di luar pengendalian malaria.

"Kami ingin memastikan modifikasi gen hanya mempengaruhi penularan malaria, tanpa menimbulkan efek lain," imbuhnya, "seperti meningkatkan penularan penyakit lain."

Ilustrasi nyamuk <b>(Pixabay)</b> Ilustrasi nyamuk (Pixabay)

Dalam tahap akhir penelitian, tim berencana melakukan uji lapangan di Kepulauan Kalangala atau Ssese, Uganda, untuk mengetahui efektivitas nyamuk hasil rekayasa genetika di habitat alaminya.

"Dalam studi final, kami harus membuktikan efektivitas lewat percobaan lapangan," jelasnya. "Kami masih merencanakan jalannya studi. Jika percobaan lapangan disetujui, kami mungkin siap dalam dua atau tiga tahun."

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya global mencapai target Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ingin menurunkan kasus malaria hingga sedikitnya 90 persen pada 2030.

Koordinator Senior Penyakit di Dana Global untuk Melawan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (GFATM), Scott Filler, menilai pendekatan inovatif menjadi kebutuhan mendesak karena parasit malaria terus mengalami resistensi terhadap obat-obatan yang tersedia.

"Sejarah mengajarkan bahwa kita bisa kalah dalam perlombaan biologi, jika terus hanya mengobati malaria," ujar Filler. "Karena parasit terus mengembangkan resistensi terhadap pengobatan yang ada."

Melalui rekayasa genetika pada nyamuk Anopheles, para peneliti berharap dapat menghadirkan solusi jangka panjang dalam memutus rantai penularan malaria sekaligus mendukung target dunia untuk menghapus penyakit tersebut.

x|close