Airlangga Pastikan Fundamental Ekonomi RI Solid Meski Rupiah Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jul 2026, 14:25
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
img-main
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Airlangga mengatakan berbagai indikator makroekonomi masih menunjukkan kondisi yang positif. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026.

"Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61. Kemudian kalau kita lihat neraca perdagangan year to date juga masih positif," ucap Airlangga dalam konferensi pers, Jumat 10 Juli 2026.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan defisit neraca perdagangan yang sempat terjadi dalam satu bulan terakhir dipengaruhi oleh lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM). 

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS Didukung Redanya Tensi Timur Tengah

Ilustrasi - Petugas menata tumpukan uang kertas rupiah saat melakukan persiapan pengisian ATM. Ilustrasi - Petugas menata tumpukan uang kertas rupiah saat melakukan persiapan pengisian ATM. (Antara)

"Kemarin satu bulan memang negatif karena dari segi impor BBM itu memang harganya naik," ungkap Airlangga.

"Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, kemudian batu bara, dan juga ferro alloy (paduan besi) sebetulnya angkanya relatif sama kemarin sehingga tentu ini kita akan jaga juga beberapa bulan ke depan," lanjutnya.

Di sisi lain, pemerintah juga terus menjaga stabilitas inflasi yang saat ini masih berada dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen. 

Salah satunya adalah pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia.

Selain itu, pemerintah juga memberikan fasilitas bea masuk nol persen untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan ke depan.

Airlangga menambahkan, berbagai program prioritas pemerintah juga terus berjalan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga program pembiayaan perumahan. 

Baca juga: Rupiah Jebol Lagi ke level Rp18 Ribu per Dolar AS

"Dari segi perbankan relatif aman, memang dana pihak ketiga (DPK) juga di perbankan sudah double digit dan kita melihat kredit juga sudah mulai berjalan, sudah meningkat dibandingkan kuartal yang lalu," jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa berbagai lembaga internasional masih memberikan penilaian positif terhadap ekonomi Indonesia. 

"Dan dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih dalam range sekitar 5 persen. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," tandasnya.

x|close