Ntvnews.id, Jakarta - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia dan China Public Diplomacy Association (CPDA) menggelar Forum Think Tank dan Media China-Indonesia 2026 di The Ritz-Carlton Jakarta.
Mengangkat tema “A New Journey—Forging a New Future for the China-Indonesia Comprehensive Strategic Partnership” atau “Perjalanan Baru—Membentuk Masa Depan Baru bagi Kemitraan Strategis Komprehensif China-Indonesia”, forum ini menjadi bagian dari evaluasi akhir pelaksanaan Plan of Action for Strengthening the Comprehensive Strategic Partnership between the People's Republic of China and the Republic of Indonesia (2022-2026) yang akan berakhir tahun ini.
Forum tersebut menjadi sarana bagi para pemangku kepentingan untuk meninjau perkembangan hubungan bilateral selama lima tahun terakhir sekaligus membahas peluang kerja sama yang dapat dikembangkan pada periode berikutnya.
Dalam kesempatan itu, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menegaskan bahwa hubungan kedua negara terus menunjukkan perkembangan positif di berbagai bidang.
"Tahun lalu, nilai perdagangan bilateral mencapai USD 167,5 miliar, dan Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama tiga belas tahun berturut-turut."
Menurut Wang, kolaborasi Indonesia dan Tiongkok kini tidak lagi terbatas pada sektor ekonomi konvensional. Kerja sama telah berkembang ke bidang industri, kecerdasan buatan (artificial intelligence), transformasi digital, pembangunan berkelanjutan, hingga pertukaran masyarakat kedua negara.
Ia juga menyoroti adanya keselarasan visi pembangunan antara Indonesia dan Tiongkok dalam jangka panjang.
Baca Juga: 8 WNA Tiongkok Dideportasi Usai Renovasi Restoran Tanpa Izin Tinggal yang Sah
"Terdapat keselarasan yang luas dan mendalam antara modernisasi Tiongkok dan visi Indonesia Emas 2045. Kerja sama kita berkembang dari hard connectivity melalui pembangunan infrastruktur, menuju soft connectivity melalui harmonisasi aturan dan standar, dan pada akhirnya menuju heart connectivity yang mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara."
Sementara itu, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto, mengemukakan empat sektor yang dinilai memiliki prospek besar untuk memperkuat hubungan kedua negara di masa mendatang.
"Pertama, ekonomi hijau dan hilirisasi mineral kritis melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik, baterai, daur ulang baterai, manufaktur panel surya, dan investasi energi terbarukan. Indonesia dan China dapat bersama-sama menjadi penggerak masa depan energi bersih."
"Kedua, ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan inovasi. Sebagai dua pasar digital terbesar di dunia, kita dapat berkolaborasi dalam pengembangan infrastruktur digital, perdagangan elektronik yang mendukung UMKM, teknologi finansial, dan penerapan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab."
"Ketiga, penguatan kerja sama di bidang ketahanan pangan dan energi melalui riset dan investasi bersama. Keempat, pengembangan industri manufaktur maju melalui peningkatan sumber daya manusia dan pendidikan vokasi."
Baca Juga: Cari Masukan Untuk UU, DPR-Pemerintah ke China
Dari sektor pendidikan dan teknologi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menilai kerja sama pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk mempercepat transformasi industri nasional.
"Pemerintah saat ini tengah menyiapkan peta jalan transformasi industri agar Indonesia tidak hanya mengandalkan perdagangan komoditas, namun bisa mengembangkan manufaktur bernilai tambah tinggi yang ditopang oleh riset dan inovasi. Upaya tersebut dapat diperkuat melalui kerja sama pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya di bidang pendidikan antara Indonesia dan China," jelas Stella.
Peran media dalam memperkuat hubungan kedua negara juga menjadi sorotan dalam forum tersebut. Sekretaris Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred) periode 2024–2027, Irfan Junaedi, menekankan pentingnya media sebagai penyampai informasi yang akurat di tengah derasnya arus informasi digital.
"Dalam dunia ketika misinformasi bergerak lebih cepat daripada fakta, media harus menjadi jembatan kebenaran antara kedua negara."
Menurut Irfan, forum yang mempertemukan kalangan think tank dan media memiliki peran strategis dalam membangun fondasi hubungan Indonesia-Tiongkok yang berkelanjutan. Kolaborasi yang semakin erat diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat kedua negara terhadap berbagai isu dan peluang kerja sama.
Baca Juga: Menkomdigi: AI Jadi Kunci Daya Saing dan Pertumbuhan Ekonomi Digital
Momentum Penting Menyongsong Babak Baru Kerja Sama
Tahun 2026 menjadi penanda berakhirnya Five-Year Action Plan for Strengthening the Comprehensive Strategic Partnership between China and Indonesia. Momen ini dinilai penting untuk mengevaluasi hasil kerja sama yang telah dicapai sekaligus menyusun arah kemitraan berikutnya.
Dalam lima tahun terakhir, hubungan Indonesia dan Tiongkok mengalami perkembangan signifikan. Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai USD 167,5 miliar, sementara Tiongkok tetap mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang terbesar Indonesia selama tiga belas tahun berturut-turut.
Berbagai proyek strategis juga menunjukkan kemajuan nyata, termasuk operasional Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang memperkuat konektivitas antarwilayah serta mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan yang dilaluinya.
Selain pembangunan infrastruktur, kolaborasi kedua negara terus berkembang ke sektor-sektor baru. Program Two Countries, Twin Parks misalnya, telah memasuki tahap implementasi setelah sebelumnya berada dalam fase perencanaan. Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkuat integrasi industri antara Indonesia dan Tiongkok.
Baca Juga:Penasihat Presiden Bidang Pertahanan Dudung Menghadap Prabowo di Istana, Bahas Apa?
Kemajuan juga terlihat pada kerja sama di bidang kecerdasan buatan, ekonomi digital, serta transformasi hijau yang semakin intensif. Berbagai inisiatif tersebut mencerminkan komitmen kedua negara dalam mendorong inovasi dan pembangunan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, hubungan antarmasyarakat (people-to-people exchanges) juga terus meningkat. Pertukaran yang semakin aktif dinilai mampu mempererat hubungan sosial sekaligus memperdalam pemahaman antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok.
Menjelang berakhirnya rencana aksi yang berlaku saat ini, Forum Think Tank dan Media China-Indonesia 2026 menjadi ruang dialog yang mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, media, dan para pakar untuk bertukar gagasan mengenai arah baru Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Tiongkok pada masa mendatang.
FPCI, Kedubes Tiongkok dan CPDA Bahas Masa Depan Kemitraan Strategis Indonesia-Tiongkok (Istimewa)