Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menyaingi Singapura hingga India dalam pengembangan Exchange Traded Fund (ETF) emas.
Airlangga mengungkapkan potensi tersebut didukung oleh besarnya kepemilikan emas di Indonesia, salah satunya tercermin dari kepemilikan emas di Pegadaian yang mencapai 153 ton atau setara sekitar USD20 miliar.
"Jadi India sebetulnya bisa kita balap dengan waktu cepat nih. Jadi kita akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura dan dengan demikian tentu kita lebih dalam lagi," ujar Airlangga, Senin 10 Agustus 2026.
Airlangga mengatakan, nilai ETF secara global telah mencapai sekitar USD4.047 miliar. Sementara itu, nilai ETF di Amerika Serikat (AS) mencapai sekitar USD200 miliar, China USD45 miliar dan India USD17,5 miliar.
Baca juga: Airlangga Ungkap VOC Perusahaan Tercatat Pertama di Dunia
Menurutnya, besarnya kepemilikan emas di Pegadaian dapat menjadi salah satu modal dalam mengembangkan ETF emas di Indonesia.
Lebih lanjut, Airlangga menyebut ETF emas dapat memperluas pilihan investasi bagi perusahaan asuransi. Pasalnya, sebelumnya perusahaan asuransi tidak dapat berinvestasi secara langsung pada bullion atau emas fisik.
"Dan saya senang karena dengan ETF maka asuransi bisa invest emas. Sebelumnya kan asuransi tidak bisa invest di bullion. Jadi ini yang salah satu yang kita akan terus dorong," lanjutnya.
Airlangga berharap produk ETF emas dapat menghubungkan berbagai pihak dalam ekosistem pasar keuangan, mulai dari manajer investasi, bank bullion hingga bursa efek.
"Saya harapkan memang produk ini menghubungkan antara manajer investasi, custodian bank, bank bullion, dealer, dan bursa efek. Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas," jelasnya.
Baca juga: HUT ke-49 Pasar Modal, ETF Emas Resmi Meluncur di BEI
Airlangga pun mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menetapkan Electronic Gold Receipt atau EGR sebagai efek yang dapat dicatat dalam portofolio ETF emas.
"Saya mengapresiasi langkah OJK bahwa Electronic Gold Receipt atau EGR merupakan efek yang dapat dicatat sebagai efek dalam portofolio ETF emas," tandasnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menyaingi Singapura hingga India dalam pengembangan Exchange Traded Fund (ETF) emas. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)