BRIN: Kekuatan Hati dan Kebijaksanaan Peneliti Tak Bisa Digantikan AI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Mei 2026, 15:55
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria. ANTARA/HO-BRIN. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria. ANTARA/HO-BRIN. (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), teknologi tersebut tidak akan mampu menggantikan kebijaksanaan serta kekuatan hati yang dimiliki manusia, khususnya para peneliti.

Dalam pengukuhan profesor riset di Jakarta, Kamis, Arif mengingatkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat jangan sampai memunculkan persoalan baru berupa dehumanisasi di berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, AI memang mampu membantu berbagai pekerjaan teknis, termasuk riset dan analisis, namun nilai kemanusiaan tetap tidak tergantikan.

"Di kala sekarang AI sudah menjadi dominan, di kala sekarang ini AI itu menjadi sesuatu yang keniscayaan, maka AI sudah bisa menggantikan banyak hal, dalam hal yang berkaitan dengan soal kemampuan teknis kita berpikir, kemampuan teknis kita meriset dan sebagainya. Tapi kekuatan wisdom, itulah kekuatan hati. Soal hati ini tidak bisa digantikan oleh AI," kata Arif Satria.

Ia berharap para profesor riset dan peneliti senior yang telah memiliki keseimbangan antara nalar, logika, nilai, dan nurani dapat menjadi teladan bagi generasi peneliti muda di Indonesia. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan riset seharusnya mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi kehidupan manusia.

"Apa artinya ilmu hanya untuk ilmu? Apa artinya riset hanya untuk riset? Tentu, kita dilahirkan di muka bumi ini adalah dalam rangka untuk mempercepat proses perubahan ke arah yang lebih baik," ujar Arif Satria.

"Mandat kita sebagai manusia karena kita yang hadir di muka bumi untuk membawa perubahan, untuk membawa kemajuan. Kita dibekali oleh Tuhan berupa otak, berupa akal, dan berupa hati. Jadi, dalam diri manusia itu nurani, itulah yang juga harus terus dibangkitkan ya, untuk mengimbangi kekuatan akal kita, kekuatan nalar kita, kekuatan otak kita," lanjut Arif.

Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah dari Rumah Tangga hingga Kota

Selain itu, Kepala BRIN juga menyoroti bidang ilmu sosial di Indonesia yang menurutnya masih banyak dikaji menggunakan perspektif asing. Ia mendorong para ilmuwan sosial Indonesia agar lebih percaya diri mengangkat kekayaan budaya dan realitas sosial bangsa dengan sudut pandang lokal.

Arif menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi produsen ilmu pengetahuan yang diperhitungkan dunia apabila para peneliti mampu mempertahankan semangat belajar dan keberanian menggunakan perspektif sendiri dalam penelitian.

Baca Juga: BRIN Dorong Indonesia Jadi Produsen Ilmu Pengetahuan Global

"Nah, itulah yang menurut saya yang diperlukan hari ini adalah bagaimana kita terus confidence. Confidence dengan cara pandang kita, dengan kekayaan kita, kekayaan nilai budaya kita, dan kekayaan realitas yang ada di Indonesia. Dan itu adalah bisa menjadi sebuah model bagi kita untuk memperkaya hasrat ilmu pengetahuan global," tutur Kepala BRIN Arif Satria.

(Sumber: Antara)

x|close