Ntvnews.id, Jakarta - China, yang dulu menjadi pasar emas bagi Porsche, kini menghadapi kenyataan pahit. Penurunan penjualan yang tajam di negara tersebut memaksa produsen mobil mewah asal Jerman ini untuk merombak strategi besar-besaran.
Melansir Carscoops, Minggu 1/2/2026), Porsche dilaporkan akan menutup sekitar 30% dealer di China dalam beberapa tahun ke depan, sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi biaya dan menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.
Hingga tahun 2026, Porsche berencana mengurangi jumlah dealer di China menjadi sekitar 80, dari sekitar 150 dealer di akhir 2024 dan 114 dealer pada akhir 2025.
Langkah drastis ini menyusul kondisi yang semakin buruk di akhir tahun 2025, ketika beberapa dealer dilaporkan berhenti beroperasi.
Bahkan, beberapa mitra waralaba meninggalkan Porsche secara tiba-tiba, meninggalkan masalah administratif seperti uang muka pelanggan yang belum diselesaikan dan dokumen yang hilang.
Angka penjualan Porsche di China memang menunjukkan penurunan yang sangat signifikan. Pada tahun 2025, Porsche hanya mengirimkan 41.938 unit mobil ke China, turun 26% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan ini mencerminkan tren menurun yang telah berlangsung sejak 2022, saat Porsche masih berhasil menjual hampir 96.000 mobil di China. Dalam waktu tiga tahun, volume penjualan Porsche di negara tersebut telah tergerus lebih dari setengahnya.
Baca Juga: Porsche Bongkar Interior Cayenne Electric: Kabin Digital Futuristis yang Tetap Fokus ke Pengemudi
Secara global, Porsche juga mengalami penurunan. Pengiriman mobil turun 10% pada tahun 2025, dengan total pengiriman mencapai 279.449 unit.
Hanya di Amerika Utara, penjualan yang relatif stabil menjadi satu-satunya titik terang. Dalam konteks ini, China jelas menjadi pasar yang paling menantang bagi Porsche.
Kehadiran merek-merek lokal China, terutama di sektor mobil listrik, semakin memperburuk situasi. Porsche Taycan, salah satu model listrik andalan, mengalami penurunan penjualan sebesar 22% pada 2025.
Pesaing-pesaing baru seperti Xiaomi telah mengubah lanskap industri, membuat Porsche harus menyesuaikan arah strateginya kembali ke mesin pembakaran internal (ICE) dan kendaraan hybrid dalam jangka pendek.
Meski demikian, CEO Porsche China, Pan Liqi, menegaskan penghematan dari penutupan dealer akan dialihkan untuk riset dan pengembangan, termasuk mendirikan pusat R&D baru di Shanghai.
Selain itu, Porsche berencana meluncurkan dua model crossover baru yang mengandalkan mesin pembakaran internal dan teknologi plug-in hybrid pada akhir tahun ini.
Porsche mengutamakan kualitas daripada kuantitas, dan pada 2026 mendatang, mereka akan memprioritaskan "strategi penjualan yang lebih selektif", dengan menekankan pada pengalaman pelanggan dan bukan hanya volume penjualan semata.
Ini menunjukkan Porsche siap menghadapi lebih banyak tantangan di pasar China dalam waktu yang akan datang.
Mobil listrik Porsche Taycan mengalami penurunan penjualan sebesar 22% pada 2025. (Foto: Istimewa via Carscoops)