Hyundai Patenkan Velg Pintar, Jari-Jarinya Bisa Menutup Otomatis Saat Mobil Ngebut

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Nov 2026, 10:45
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Hyundai patenkan velg pintar. (Foto: Istimewa via Carscoops) Hyundai patenkan velg pintar. (Foto: Istimewa via Carscoops)

Ntvnews.id, Jakarta - Hyundai dan Kia mengembangkan inovasi roda mobil yang mampu mengubah konfigurasi jari-jarinya secara otomatis.

Teknologi yang telah dipatenkan ini memungkinkan velg menutup celah di antara jari-jari saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengurangi hambatan angin.

Menariknya, velg tersebut juga dapat kembali membuka celahnya agar aliran udara bisa menjangkau sistem pengereman dan membantu menjaga suhu rem tetap optimal.

Inovasi ini berpotensi menghadirkan solusi atas kompromi desain roda yang selama ini dihadapi industri otomotif. Velg dengan jari-jari terbuka memang mendukung sirkulasi udara untuk mendinginkan rem.

Namun, desain tersebut menghasilkan hambatan aerodinamis lebih besar dibandingkan velg dengan permukaan tertutup. Sebaliknya, velg tertutup memiliki aerodinamika lebih baik, tetapi dapat membatasi aliran udara untuk pendinginan rem.

Dilansir dari Carscoops, Jumat (6/11/2026), Hyundai dan Kia telah memperoleh Paten AS Nomor 12.779.902 B2 pada 3 November 2026. Paten tersebut mencakup desain roda yang dapat beralih antara konfigurasi terbuka dan tertutup.

Permohonan paten teknologi ini sebenarnya telah dipublikasikan sejak Juni 2025. Namun, dokumen paten terbaru memberikan gambaran lebih jelas mengenai mekanisme yang digunakan untuk mengatasi persoalan aerodinamika dan pendinginan rem.

Velg Pintar dengan Dua Mode

Secara konsep, teknologi ini mengandalkan komponen tambahan yang ditempatkan di balik jari-jari velg konvensional.

Komponen tersebut terdiri dari cincin tengah yang dapat berputar dan sejumlah bilah bergerak. Ketika cincin berputar ke arah tertentu, bilah-bilah tersebut akan bergeser untuk menutupi celah di antara jari-jari utama.

Dengan demikian, permukaan roda menjadi lebih tertutup sehingga mampu mengurangi hambatan udara saat kendaraan melaju kencang.

Sebaliknya, ketika bilah kembali ke posisi semula dan tersembunyi di balik jari-jari utama, celah roda akan terbuka. Kondisi ini memungkinkan udara mengalir menuju sistem pengereman untuk membantu proses pendinginan.

Hal penting dari desain tersebut adalah jari-jari struktural velg tetap berada pada posisi semula. Bagian yang bergerak hanya cincin dan bilah tambahan di dalam rakitan roda.

Hyundai juga menjelaskan beberapa pilihan mekanisme penggerak untuk mengoperasikan sistem tersebut. Di antaranya menggunakan motor listrik, aktuator hidrolik, maupun pneumatik.

Selain itu, terdapat opsi penggunaan material paduan memori bentuk (shape memory alloy). Material ini dapat berubah panjang ketika mendapatkan rangsangan elektronik.

Perubahan tersebut digunakan untuk mendorong bilah ke posisi tertutup. Sementara itu, pegas atau mekanisme elastis lainnya akan menarik bilah kembali ketika aktuator tidak lagi aktif.

Sistem ini juga dilengkapi papan kontrol kecil yang dipasang di dalam roda untuk mengatur pergerakan komponen.

Meski menawarkan fungsi menarik, mekanisme tersebut terbilang kompleks. Hal ini berpotensi meningkatkan biaya produksi, perawatan, hingga penggantian velg jika terjadi kerusakan.

Baca Juga: Porsche Garap 15 Mobil Super Eksklusif, Harga Termahal Tembus Hampir Rp270 Miliar

Tingkatkan Aerodinamika Tanpa Mengorbankan Pendinginan Rem

Pengembangan teknologi ini tidak terlepas dari upaya meningkatkan efisiensi kendaraan melalui pengurangan hambatan udara.

Hyundai memperkirakan roda dan ban menyumbang sekitar 25 persen dari total hambatan aerodinamis kendaraan pada kecepatan jalan raya.

Karena itu, mengurangi hambatan udara pada bagian roda berpotensi meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperpanjang jarak tempuh kendaraan listrik.

Manfaatnya juga tidak terbatas pada mobil listrik. Kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) berpeluang mendapatkan keuntungan berupa konsumsi bahan bakar yang lebih efisien.

Namun, menutup seluruh celah velg secara permanen bukan solusi ideal. Pasalnya, sistem pengereman menghasilkan panas tinggi yang perlu dilepaskan melalui sirkulasi udara.

Jika aliran udara terlalu dibatasi, suhu rem berpotensi meningkat dan memengaruhi kinerjanya.

Di sinilah teknologi velg adaptif Hyundai dan Kia menawarkan keunggulan. Ketika mobil melaju di jalan raya dengan kecepatan tinggi, bilah dapat menutup celah untuk mengoptimalkan aerodinamika.

Sementara itu, saat kendaraan melaju di perkotaan, melakukan pengereman berulang kali, atau melewati jalan menurun, bilah dapat kembali membuka untuk membantu pendinginan rem.

Belum Dipastikan Masuk Produksi

Meski sudah memperoleh paten, Hyundai dan Kia belum mengungkapkan secara detail bagaimana sistem ini akan bekerja pada kendaraan produksi.

Belum diketahui apakah mekanisme penutupan bilah akan diaktifkan secara otomatis berdasarkan kecepatan kendaraan atau menggunakan parameter lainnya.

Besarnya pengurangan hambatan aerodinamis yang bisa dihasilkan teknologi ini juga belum diumumkan. Seperti halnya paten otomotif lainnya, keberadaan dokumen paten tidak serta-merta menjamin teknologi tersebut akan masuk ke jalur produksi massal.

Meski demikian, konsep velg dengan jari-jari yang dapat menutup dan membuka secara otomatis ini menjadi salah satu pendekatan menarik untuk meningkatkan efisiensi kendaraan.

Jika berhasil dikembangkan, teknologi tersebut dapat membantu produsen otomotif meningkatkan aerodinamika tanpa harus mengorbankan kebutuhan pendinginan sistem pengereman.