Ntvnews.id, Jakarta - Teknologi baterai solid-state masih menjadi salah satu taruhan terbesar industri kendaraan listrik (EV), meski baterai lithium-ion konvensional terus berkembang dan menawarkan kemampuan yang semakin mengesankan.
Dikutip dari Insideevs, Senin (28/9/2026), sejumlah perusahaan otomotif dan startup tetap menggelontorkan investasi besar untuk mengembangkan baterai solid-state.
Teknologi ini digadang-gadang mampu menghadirkan pengisian daya yang jauh lebih cepat, jarak tempuh lebih panjang, serta tingkat keamanan yang lebih baik dibandingkan baterai lithium-ion konvensional.
Di sisi lain, perkembangan baterai lithium-ion membuat persaingan semakin menarik. Teknologi terbaru Geely, misalnya, diklaim mampu mengisi baterai dari 10 hingga 97 persen dalam waktu kurang dari sembilan menit.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: apakah baterai solid-state masih layak dikembangkan?
Kepala Penelitian dan Pengembangan Hyundai Motor Group, Manfred Harrer, meyakini teknologi tersebut masih memiliki masa depan.
"Anda tidak bisa menyerah sekarang juga. Itu jelas," kata Harrer kepada wartawan pekan lalu.
"Anda harus tetap terlibat."
Baterai kendaraan listrik saat ini umumnya menggunakan elektrolit cair untuk mengangkut ion litium antara anoda dan katoda.
Sementara itu, baterai solid-state mengganti elektrolit cair tersebut dengan material padat, seperti keramik atau polimer.
Perubahan tersebut berpotensi memberikan sejumlah keuntungan, termasuk peningkatan keamanan, kepadatan energi, ukuran baterai yang lebih ringkas, serta kemampuan pengisian daya yang lebih cepat.
Namun, tantangan terbesar masih berada pada proses produksi. Hingga saat ini, belum ada produsen yang berhasil memproduksi baterai solid-state dalam skala besar untuk kendaraan yang dipasarkan secara massal.
Baca Juga: Hyundai Siapkan Lebih dari 100 Model Baru hingga 2030
Harrer menilai potensi teknologi tersebut terlalu besar untuk ditinggalkan. Dia memperkirakan dalam lima tahun mendatang akan mulai bermunculan mobil premium dengan volume produksi terbatas yang menggunakan baterai solid-state.
Perkiraan tersebut sejalan dengan sejumlah perusahaan lain. QuantumScape, misalnya, memperkirakan teknologinya dapat digunakan pada kendaraan berperforma tinggi menjelang akhir dekade ini. Meski demikian, harga tetap menjadi persoalan utama.
Menurut Harrer, biaya bahan baku baterai solid-state kemungkinan masih sangat tinggi selama proses pengembangan dan peningkatan skala produksi. Kondisi itu membuat teknologi tersebut belum mudah diterapkan pada kendaraan listrik untuk pasar massal.
"Pada akhirnya, Anda dapat menyelesaikan semuanya, tetapi itu datang dengan biaya, biaya yang sangat besar," ujarnya.
Hyundai sendiri mengembangkan baterai solid-state melalui riset internal sekaligus bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk Solid Power.
Hyundai bukan satu-satunya produsen otomotif yang menganggap teknologi ini sebagai investasi penting. Toyota telah mengembangkan baterai solid-state selama setidaknya dua dekade dan menargetkan produksi dalam beberapa tahun mendatang.
Volkswagen juga menjadi salah satu pendukung QuantumScape, sementara BMW bekerja sama dengan Solid Power. General Motors, Ford, Honda, dan Nissan juga tengah mengembangkan teknologi baterai generasi berikutnya tersebut.
Sejumlah perusahaan bahkan telah memperlihatkan prototipe kendaraan yang menggunakan baterai solid-state. Ducati pernah memamerkan motor dengan sel QuantumScape, sedangkan Mercedes menunjukkan kendaraan dengan teknologi dari Factorial.
Namun, hingga kini belum ada mobil produksi massal dengan baterai solid-state yang tersedia untuk dibeli konsumen.
Karena itu, Hyundai ingin memastikan perusahaan memiliki pengetahuan dan kemampuan manufaktur sendiri ketika teknologi tersebut akhirnya matang.
"Kami ingin menjadi pemilik teknologi inti ini, dan itulah alasan mengapa kami juga berinvestasi dalam manufaktur baterai kami sendiri," kata Harrer.
Menurutnya, memahami proses pembuatan baterai sekaligus struktur biayanya menjadi hal penting bagi Hyundai. Baterai merupakan salah satu komponen paling mahal dalam kendaraan listrik dan juga menjadi teknologi utama untuk berbagai jenis kendaraan elektrifikasi.
Hyundai sendiri berencana menggunakan sel baterai nikel mangan kobalt (NMC) buatan sendiri pada Santa Fe EV jarak jauh yang dijadwalkan memasuki pasar pada awal tahun depan.
Meski optimistis terhadap masa depan solid-state, Harrer menilai teknologi tersebut masih membutuhkan waktu panjang sebelum benar-benar masuk ke pasar utama.
"Saya tidak percaya Anda dapat menyelesaikan masalah biaya bahan baku dalam lima tahun dari sekarang," tukas Harrer.
Hyundai IONIQ 5 meraih "Best EV Experience" di CarGurus Confidence Awards 2026. (Foto: Dok/Istimewa)