Ntvnews.id
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa pendampingan akan difokuskan pada dukungan psikososial serta asesmen menyeluruh terhadap kebutuhan masing-masing keluarga korban.
Ia menjelaskan bahwa asesmen tersebut bertujuan memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran, termasuk kemungkinan pemberian dukungan lanjutan bagi keluarga yang membutuhkan.
Selain itu, Kemensos juga membuka peluang pemberian bantuan pemberdayaan apabila ditemukan keluarga korban yang memerlukan dukungan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
Baca Juga: Dirut KAI Buka Suara Soal Pemindahan Gerbong Wanita, Tegaskan Keselamatan untuk Semua Gender
Terkait santunan bagi ahli waris korban meninggal dunia, Saifullah menyebutkan bahwa hal tersebut umumnya telah ditangani melalui mekanisme asuransi, sementara Kemensos memberikan dukungan tambahan berdasarkan hasil asesmen di lapangan.
Insiden kecelakaan yang terjadi pada Senin, 27 April 2026 pukul 20.55 WIB di Stasiun Bekasi Timur mengakibatkan kerusakan pada rangkaian KRL, terutama pada gerbong khusus wanita.
Berdasarkan data Polda Metro Jaya, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 15 orang, sementara 88 orang lainnya mengalami luka-luka dan saat ini masih mendapatkan perawatan medis di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi.
Baca Juga: Menhub dan Dirut KAI Jajal KRL Bekasi Timur-Cikarang, Layanan Kembali Normal
Proses identifikasi korban dilakukan melalui posko Disaster Victim Identification (DVI) di RS Bhayangkara Tingkat I Pusdokkes Polri, Jakarta Timur, dengan sejumlah keluarga korban telah melapor untuk proses pencocokan data.
(Sumber: Antara)
Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan keterangan kepada pewarta terkait memebrika pendampingan keluarga korban kecelakaan kereta yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line melalui asesmen dan dukungan sosial sesuai kebutuhannya di Jakarta, Rabu (29/4/2026). ANTARA/HO-Humas Kemensos/aa. (Antara)