Ntvnews.id, Washington - Lebih dari 600 karyawan Google dilaporkan mengirimkan surat kepada CEO Sundar Pichai untuk mendesak perusahaan menolak kerja sama dengan Pentagon terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proyek-proyek yang bersifat rahasia.
Seperti diberitakan The Washington Post, surat yang dikirim pada Senin, 27 April 2026 tersebut meminta agar Google tidak menyetujui bentuk perjanjian apa pun dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang memungkinkan pemanfaatan teknologi AI perusahaan dalam pekerjaan bersifat tertutup.
Para karyawan menilai, jika kerja sama tersebut terjadi, maka Google akan kesulitan memantau bagaimana teknologi AI mereka digunakan di lapangan.
Baca Juga: Pentagon Konfirmasi Insiden Jet F-35 Usai Operasi Tempur di Wilayah Iran
"Kami ingin melihat manfaat kemanusiaan dari kecerdasan buatan, bukan melihat bagaimana teknologi itu digunakan dengan cara yang baik tidak manusiawi maupun sangat berbahaya. Ini tidak hanya mencakup persenjataan otonom yang mematikan dan pengawasan massal, tetapi lebih dari itu," bunyi surat tersebut.
Dalam pernyataan yang sama, para karyawan juga menyoroti kekhawatiran terhadap potensi penyalahgunaan AI, terutama dalam pengembangan senjata otonom dan sistem pengawasan massal yang dianggap berisiko tinggi.
Mereka menegaskan bahwa bentuk kerja sama dengan proyek rahasia berpotensi membuat penggunaan teknologi tersebut tidak dapat dipantau secara transparan oleh pihak internal perusahaan.
Baca Juga: Google Siapkan Smart Glasses Mewah Bersama Gucci, Rilis 2027
"Satu-satunya cara untuk menjamin bahwa Google tidak dikaitkan dengan bahaya tersebut adalah dengan menolak beban kerja rahasia apa pun. Jika tidak, maka penggunaan tersebut dapat terjadi tanpa sepengetahuan kami atau kekuatan untuk menghentikannya," demikian isi pernyataan tersebut.
Surat ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di kalangan pekerja teknologi terhadap penggunaan kecerdasan buatan dalam sektor militer dan keamanan.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Logo Google di Kantor Google, Jakarta Selatan. ANTARA/Livia Kristianti/am. (Antara)