Ntvnews.id, Washington D.C - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Kuba kini berada di titik krusial setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait arah kebijakan luar negerinya.
Dalam kampanye terbarunya, Trump memberi sinyal bahwa Kuba berpotensi menjadi sasaran militer berikutnya setelah ketegangan dengan Iran mereda.
Dilansir dari AFP, Selasa, 21 April 2026, Trump secara terbuka mengkritik sistem pemerintahan di Havana yang menurutnya telah lama berjalan tidak efektif. Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi global terkait kemungkinan adanya operasi militer di masa mendatang.
Sejumlah pengamat menilai langkah Washington ini sebagai peringatan serius bagi pemerintahan Miguel Diaz-Canel bahwa tekanan politik dan militer dari AS tidak akan surut dalam waktu dekat.
Baca Juga: Trump Kirim Delegasi ke Pakistan untuk Negosiasi Iran, Singgung Hal Ini
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyerukan kepada rakyatnya untuk bersiap menghadapi potensi invasi militer. Dalam sebuah rapat umum di Havana, ia dengan tegas membantah narasi yang disampaikan pihak Amerika Serikat.
"Tidak, tuan-tuan pemanipulasi dan pembohong. Kuba bukanlah negara yang gagal. Kuba adalah negara yang terkepung. Kuba adalah negara yang menghadapi agresi multidimensional," tegas Miguel Diaz-Canel.
Ia juga menambahkan bahwa berbagai kesulitan yang dihadapi Kuba saat ini merupakan dampak dari tekanan ekonomi dan blokade energi yang semakin diperketat. Meski demikian, Diaz-Canel memastikan bahwa negaranya tidak akan menyerah terhadap segala bentuk intimidasi tersebut.
Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri (Antara)