Jelang Muktamar NU, Elite Pemerintah Hadiri Halal Bihalal IKA PMII, Soroti Konsolidasi dan Arah Kepemimpinan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Apr 2026, 12:14
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Jelang rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun ini, sejumlah tokoh nasional menghadiri acara halal bihalal Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di Hotel Mercure Jakarta Jelang rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun ini, sejumlah tokoh nasional menghadiri acara halal bihalal Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di Hotel Mercure Jakarta (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Jelang rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun ini, sejumlah tokoh nasional menghadiri acara halal bihalal Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di Hotel Mercure Jakarta Pusat, Minggu, 19 April 2026.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Kehadiran para tokoh ini memunculkan spekulasi bahwa forum halal bihalal IKA PMII menjadi bagian dari konsolidasi menjelang Muktamar NU. Namun, para tokoh memberikan perspektif beragam terkait hal tersebut.

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menekankan bahwa momentum halal bihalal lebih pada penguatan peran alumni PMII bagi bangsa.

“Ya, alhamdulillah hari ini halal bihalal IKA PMII yang memiliki banyak alumni yang menyebar di berbagai profesi, latar belakang partai, bahkan berbagai kultur yang berbeda-beda,” ujarnya.

Baca Juga: PBNU Perkuat Persiapan Muktamar ke-34, Target Digelar Pertengahan Tahun 2026

“Sehingga halal bihalal memperkuat soliditas kontribusi yang paling penting bagaimana agar alumni PMII punya kontribusi produktif buat bangsa dan negara, buat masyarakat, buat umat dan bangsa.” sambungnya.

Meski demikian, Cak Imin tidak menampik adanya keprihatinan terhadap kondisi internal NU menjelang Muktamar.

“Apa yang terjadi di tubuh NU hari ini adalah keprihatinan kita semua. Kepemimpinan yang tidak solid, tidak produktif, nah ini harus menjadi keprihatinan kita semua,” tegasnya.

Jelang rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun ini, sejumlah tokoh nasional menghadiri acara halal bihalal Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di Hotel Mercure Jakarta <b>(Istimewa)</b> Jelang rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun ini, sejumlah tokoh nasional menghadiri acara halal bihalal Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) di Hotel Mercure Jakarta (Istimewa)

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar lebih menekankan pentingnya transformasi kader PMII dalam menghadapi tantangan global.

“PMII ini kita berharap menuju sebuah lembaran baru ke depan. Kita berharap nanti para alumni dan kader-kader PMII itu bisa lebih proaktif mengantisipasi zamannya sendiri ya,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya strategi dalam menghadapi dinamika global.

“Nah kita ini harus punya strategi ya, punya perhitungan-perhitungan apalagi dengan geopolitik sekarang ini yang begitu labil ya kan,” ujarnya.

Lebih jauh, Nasaruddin memandang NU memiliki peluang besar menjadi pusat peradaban Islam modern dunia.

“NU itu akan menjadi episentrum peradaban Islam modern akan datang,” ungkapnya.

Menurutnya, posisi moderat NU menjadi kekuatan utama dalam menjembatani berbagai kepentingan global.

Di sisi lain, Nusron Wahid menilai jika kegiatan tersebut dianggap sebagai konsolidasi menjelang Muktamar NU, hal itu merupakan sesuatu yang wajar.

“Dikatakan konsolidasi ya betul, nggak dikatakan ya nggak betul juga nggak apa-apa,” katanya.

Baca Juga: Pramono: WFH Tiap Jumat Kurangi Macet Jakarta

Ia menegaskan bahwa PMII memiliki tanggung jawab moral terhadap NU sebagai organisasi induknya.

“Kalau kemudian PMII itu memikirkan NU sudah menjadi kewajiban dan keharusan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nusron menekankan pentingnya perbaikan internal NU ke depan.

“Karena itu alumni PMII berkewajiban untuk melakukan konsolidasi untuk apa? Upaya-upaya perbaikan supaya NU ke depan lebih produktif, lebih maslahat kepada Nahdlatul Ulama, kepada Nahdliyin, dan kepada umat manusia,” jelasnya.

Ia menambahkan, fokus utama perbaikan terletak pada kualitas kepemimpinan.

“Visi, niat, dan ke depan adalah kepemimpinan yang lebih baik,” pungkas Nusron.

Acara halal bihalal IKA PMII ini pun menjadi momentum penting yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memunculkan sinyal kuat dinamika internal NU menjelang Muktamar, terutama terkait kebutuhan konsolidasi dan pembenahan kepemimpinan organisasi ke depan.

x|close