Lebaran Berbeda, Menag Ajak Masyarakat Tetap Jaga Persatuan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Mar 2026, 21:51
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Dari kiri ke kanan, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang, dan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis dalam Konferensi Pers Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026. Dari kiri ke kanan, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang, dan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis dalam Konferensi Pers Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap menjaga kebersamaan dan persatuan, meskipun pelaksanaan Idul Fitri tahun ini berlangsung di waktu yang berbeda.

Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sementara itu, sejumlah organisasi keagamaan menetapkan Idul Fitri lebih awal, yakni pada Jumat, 20 Maret 2026, termasuk Muhammadiyah.

Menanggapi perbedaan tersebut, Nasaruddin menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antarumat.

Alhamdulillah, inilah hasil maksimum yang bisa kita capai dan kepada mereka yang berbeda dengan keputusan pemerintah atau ketetapan Sidang Isbat ini, jangan ada jarak di antara kita satu sama lain. Teman-teman kita itu adalah sebagai sesama warga bangsa, sesama umat Islam,” kata Menag dalam konferensi pers Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026

Ia juga mengingatkan agar perbedaan dalam penetapan hari raya tidak dijadikan alasan untuk memecah belah persatuan umat beragama di Indonesia.

“Semoga hal ini dapat menjadi simbol kebersamaan umat Islam di Indonesia yang sekaligus mencerminkan persatuan kita sebagai sesama anak bangsa dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” ujar Nasaruddin Umar.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

, Cholil Nafis, yang mengajak umat Islam tetap menjaga toleransi, baik bagi yang masih berpuasa maupun yang sudah merayakan Lebaran.

“Mari kita pelihara kebersamaan kita selama kita bulan Ramadhan yang kondusif dengan ibadah dan kekhusyukan kita, kita pelihara di 11 bulan berikutnya,” ucap Cholil Nafis.

Baca Juga: Menag Beberkan Alasan Lebaran 2026 Jatuh Hari Sabtu 21 Maret

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah dalam menetapkan awal Syawal melalui kombinasi metode hisab dan rukyat yang dilakukan di 117 titik pemantauan.

“Alhamdulillah, untuk menjadi kesatuan dan persatuan kita semua, andaikan ada masyarakat yang memahami dan percaya memutuskan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah di hari esok Jumat, bisa ditoleransi dan ini tidak menjadi perbedaan di antara kita sebagai umat Muslim dan mari kita menjaga ukhuah dengan baik,” tutur Marwan Dasopang.

Adapun pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah pada 21 Maret 2026 karena berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk. Tingginya berkisar antara 0° 54' 27" (0,91°) hingga 3° 07' 52" (3,13°), dengan sudut elongasi antara 4° 32' 40" (4,54°) sampai 6° 06' 11" (6,10°).

Mengacu pada kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), awal bulan hijriah baru dapat ditetapkan apabila hilal telah mencapai ketinggian minimal 3 derajat dan memiliki elongasi setidaknya 6,4 derajat.

(Sumber: Antara)

x|close