Iran Tak Akan Hadiri Negosiasi Kedua dengan AS di Tengah Blokade dan Eskalasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Apr 2026, 09:44
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Arsip foto - Bendera Iran dengan kerusakan besar di distrik Javadiyeh dan Beryanak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran, Mingu (15/3/2026). ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/pri. Arsip foto - Bendera Iran dengan kerusakan besar di distrik Javadiyeh dan Beryanak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran, Mingu (15/3/2026). ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Iran menegaskan belum memiliki rencana untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan terbaru. Sikap ini muncul saat tekanan terhadap Teheran terus meningkat, terutama akibat blokade yang dilakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta insiden militer di laut.

Stasiun penyiaran pemerintah IRIB pada Minggu (19/4) mengutip sumber dalam negeri yang menyatakan, "saat ini tidak ada rencana untuk berpartisipasi dalam putaran pembicaraan Iran-AS berikutnya". Pernyataan ini mencerminkan memburuknya suasana menjelang upaya lanjutan diplomasi antara kedua negara.

Sejumlah media Iran, termasuk kantor berita Fars dan Tasnim, sebelumnya juga menggambarkan kondisi negosiasi yang tidak kondusif. Sumber anonim yang dikutip menyebutkan bahwa "suasana keseluruhan tidak dapat dinilai sangat positif", sekaligus menegaskan bahwa pencabutan blokade Amerika Serikat menjadi syarat utama sebelum dialog dapat dilanjutkan.

Baca Juga: Iran Sebut Blokade AS Langgar Gencatan Senjata dan Tindakan Kriminal

Pandangan serupa disampaikan kantor berita resmi IRNA yang menilai tindakan Washington sebagai penghambat utama. IRNA menyoroti keberlanjutan blokade serta apa yang disebut sebagai "tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak realistis" dari pihak AS, seraya menegaskan bahwa "dalam keadaan ini, tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang bermanfaat".

Ketegangan ini terjadi saat masa gencatan senjata selama dua minggu di kawasan Timur Tengah mendekati akhir. Gencatan tersebut menghentikan sementara konflik yang dipicu oleh serangan mendadak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Hingga kini, proses diplomasi belum menunjukkan hasil berarti, dengan satu-satunya pertemuan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad pada 11 April berakhir tanpa kesimpulan.

Dari perspektif Iran, situasi semakin memburuk setelah Amerika Serikat memperketat tekanan ekonomi dan militer. Blokade angkatan laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan Iran dipandang sebagai upaya langsung untuk menekan sumber pendapatan minyak negara tersebut. Langkah ini menjadi salah satu alasan utama Teheran menahan diri dari melanjutkan negosiasi.

Ketegangan meningkat lebih jauh setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan insiden terhadap kapal berbendera Iran. Ia menyatakan kapal tersebut mencoba menembus blokade, dan akhirnya dihentikan oleh kapal perang Amerika. Trump menyebut tindakan itu dilakukan dengan membuat lubang pada ruang mesin kapal hingga akhirnya diamankan oleh marinir AS.

Bagi Iran, tindakan tersebut memperkuat pandangan bahwa Washington tidak menunjukkan itikad untuk meredakan konflik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menilai blokade tersebut sebagai "pelanggaran" terhadap kesepakatan gencatan senjata serta bentuk hukuman kolektif yang tidak sah terhadap rakyat Iran.

Baca Juga: Kebakaran Hebat di Malaysia Hanguskan Sekitar 1.000 Rumah

Di sisi lain, Iran juga menggunakan kendali atas Selat Hormuz sebagai bagian dari respons strategis. Jalur vital perdagangan energi dunia itu sempat dibuka kembali pada Jumat (17/4), sebagai bentuk penghormatan terhadap gencatan senjata di Lebanon. Namun, selat tersebut kembali ditutup sehari kemudian sebagai reaksi atas blokade yang tetap diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas tanpa izin akan dianggap bekerja sama dengan pihak musuh. Mereka menegaskan bahwa pelanggaran semacam itu akan menghadapi konsekuensi langsung berupa tindakan militer.

Situasi di lapangan menunjukkan tingginya risiko eskalasi. Meski sempat ada sejumlah kapal tanker yang melintas saat pembukaan singkat Selat Hormuz, jalur tersebut kembali kosong dalam waktu singkat. Insiden penembakan dan ancaman terhadap kapal komersial juga menandai betapa berbahayanya upaya pelayaran di kawasan tersebut.

Dengan kombinasi tekanan ekonomi, aksi militer, dan tuntutan politik dari Washington, Iran kini memilih untuk menahan diri dari proses negosiasi. Posisi ini menegaskan bahwa tanpa perubahan sikap dari Amerika Serikat, terutama terkait blokade, peluang untuk melanjutkan dialog dinilai belum memungkinkan.

x|close