Ntvnews.id, Pyongyang - Korea Utara menuduh Jepang melakukan “provokasi serius” terhadap kedaulatannya setelah Tokyo menyampaikan kekhawatiran terhadap program nuklir dan rudal Pyongyang dalam laporan kebijakan tahunan.
Dilansir dari Anadolu Agency, Kamis, 16 April 2026, kritik tersebut disampaikan oleh seorang pejabat dari Institut Studi Jepang yang berada di bawah naungan Kementerian Luar Negeri Korea Utara. Pernyataan itu muncul setelah Kementerian Luar Negeri Jepang merilis laporan tahunan Diplomatic Bluebook pada pekan lalu.
Dalam dokumen tersebut, Jepang menilai program nuklir dan rudal Korea Utara sebagai “kekhawatiran serius.”
Menanggapi hal tersebut, Pyongyang menyatakan keberatan dan menilai pernyataan Jepang sebagai bentuk campur tangan terhadap hak negara untuk mempertahankan diri.
Baca Juga: Tanker Raksasa Iran Diklaim Lolos Blokade AS, Berlayar Lewati Selat Hormuz
“Saya tidak dapat mengabaikan langkah mereka yang mengomentari pelaksanaan hak bela diri yang sah oleh DPRK, sambil bermimpi menggoyahkan posisi negara bersenjata nuklir yang tercantum dalam konstitusi DPRK,” demikian pernyataan tersebut, seperti dilaporkan kantor berita KCNA.
DPRK sendiri merupakan singkatan dari nama resmi Korea Utara, yakni Democratic People’s Republic of Korea.
Dalam pernyataan lanjutan, Korea Utara juga menyoroti sikap Jepang yang menyebut penguatan kemampuan pertahanan Pyongyang sebagai “ancaman serius dan mendesak” serta “tantangan yang jelas dan serius.” Jepang bahkan kembali mengusulkan pelucutan senjata secara menyeluruh, terverifikasi, dan tidak dapat dibalik.
Korea Utara menilai sikap tersebut sebagai tindakan provokatif yang melanggar kedaulatan, serta mengancam kepentingan keamanan dan pembangunan negaranya.
Lebih lanjut, Pyongyang menilai langkah Jepang mencerminkan “permusuhan yang mengakar dan niat konfrontatif” terhadap Korea Utara.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua kiri) menghadiri upacara peluncuran kapal selam tempur nuklir taktis pertama di Korea Selatan, Rabu, 6 September 2023. Tugas pertama kapal selam nuklir itu adalah berpatroli di perairan antara Semenanjung Korea (Antara)