Ntvnews.id, Beijing - China menyerukan agar aktivitas pelayaran di jalur strategis Selat Hormuz tetap berjalan tanpa hambatan. Seruan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan blokade terhadap jalur tersebut menyusul kegagalan perundingan damai antara Washington dan Teheran.
"Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi, dan menjaga keamanan, stabilitas, dan kelancaran arus adalah kepentingan bersama komunitas internasional," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, seperti dilansir dari AFP, Selasa, 14 April 2026.
Dalam pernyataannya kepada media, Guo menegaskan bahwa Beijing berharap ketegangan antara AS dan Iran tidak kembali memicu konflik terbuka di kawasan Timur Tengah, setelah perundingan yang digelar di Pakistan pada akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan.
"China berharap pihak-pihak terkait akan mematuhi perjanjian gencatan senjata sementara, lanjut menyelesaikan perselisihan melalui cara-cara politik dan diplomatik, menghindari berkobarnya kembali perang dan menciptakan kondisi untuk kembalinya perdamaian dan ketenangan di kawasan Teluk secepatnya," ucap Guo.
Baca Juga: Prancis–Inggris Siapkan Misi Multinasional Amankan Selat Hormuz
Sebagai salah satu jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia, Selat Hormuz terdampak signifikan oleh konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu. Selama konflik berlangsung, aktivitas pelayaran di wilayah tersebut sempat dibatasi oleh Teheran.
Di sisi lain, Iran tetap memberikan akses bagi kapal-kapal dari negara yang dianggap bersahabat, termasuk China, untuk melintasi jalur tersebut. Bahkan, muncul laporan yang belum terverifikasi terkait rencana Iran untuk mengenakan tarif terhadap kapal yang melintas.
Ketegangan meningkat setelah Donald Trump menginstruksikan Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap Selat Hormuz, sebagai respons atas sikap Iran yang menolak menghentikan program nuklirnya, usai perundingan damai yang buntu.
Arsip foto - Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa.) (Antara)
United States Central Command (CENTCOM), yang mengoordinasikan operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan bahwa blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai diberlakukan pada Senin, 13 April 2026 waktu setempat.
Menanggapi langkah tersebut, pihak militer Iran mengecam tindakan AS sebagai ilegal dan menyamakannya dengan aksi pembajakan. Teheran juga memperingatkan bahwa pelabuhan di kawasan Teluk tidak akan aman jika fasilitas pelabuhan Iran terus menjadi target.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 8 Persen Usai Ancaman Blokade Selat Hormuz
Sejalan dengan China, Turki turut mendorong agar jalur pelayaran di Selat Hormuz segera dibuka kembali. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam pernyataannya kepada Anadolu Agency, menegaskan dukungan Ankara terhadap pembukaan jalur tersebut secara damai.
Ia menambahkan bahwa komunitas internasional menginginkan arus pelayaran yang bebas dan tanpa gangguan di Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (16/1/2025). (ANTARA (Desca Lidya Natalia))