Ntvnews.id, Moskow – Amerika Serikat dilaporkan memiliki keinginan untuk menggantikan Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, namun keputusan akhir terkait langkah tersebut disebut akan diserahkan kepada rakyat Kuba, menurut laporan The New York Times.
Mengutip sejumlah sumber, laporan tersebut menyebutkan bahwa Washington saat ini tidak menargetkan tindakan terhadap keluarga Castro. Meski begitu, pemerintah AS telah menyampaikan kepada Havana bahwa tidak akan ada kesepakatan selama Diaz-Canel masih memimpin.
Sejumlah pejabat dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump meyakini bahwa pergantian kepemimpinan di Kuba dapat membuka jalan bagi perubahan struktural dalam sektor ekonomi, yang dinilai sulit terwujud selama Diaz-Canel tetap berkuasa.
Baca Juga: Trump Minta 7 Negara Kawal Kapal di Selat Hormuz
Pada akhir Januari, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberikan kewenangan kepada pemerintah AS untuk mengenakan tarif impor terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Kebijakan tersebut juga diiringi dengan penetapan status darurat, dengan alasan adanya ancaman terhadap keamanan nasional yang disebut berasal dari Havana.
Di sisi lain, pemerintah Kuba menuding langkah AS sebagai upaya untuk menekan perekonomian negara Karibia tersebut serta memperburuk kondisi hidup masyarakatnya.
Baca Juga: Trump: AS Tak Butuh Bantuan Negara Lain untuk Buka Selat Hormuz
Sebagai informasi, Miguel Diaz-Canel merupakan politikus senior dari Partai Komunis Kuba yang menjabat sebagai Presiden Kuba sejak April 2018, menggantikan Raul Castro. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Presiden Pertama Dewan Negara dan Dewan Menteri pada periode 2013 hingga 2018.
(Sumber: Antara)
Arsip - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)