Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta pemerintah mempercepat program kemandirian energi. Menyusul menigkatnya ketidakpastian geopolitik global akibat perang Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.
Anggota Komisi XIII DPR, Bias Layar, memandang eskalasi di Timur Tengah (Timteng) harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera memperkuat kemandirian energi nasional.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah maupun BBM dari kawasan Timur Tengah yang hari ini berkonflik, berpotensi menimbulkan risiko besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
"Ketegangan di sekitar jalur energi global seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak dunia, dapat memicu lonjakan harga energi secara drastis," ujar Bias, Sabtu, 7 Maret 2026.
"Jika konflik global semakin meluas, harga minyak dunia bahkan berpotensi menembus di atas angka US$100 per barel," imbuhnya.
Ia menilai, kondisi itu sangat mungkin memberikan tekanan besar terhadap perekonomian nasional, mulai dari meningkatnya inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga tekanan berat terhadap struktur APBN.
Atas itu, ia meminta pemerintah agar segera mengambil langkah strategis dengan mengurangi ketergantungan impor minyak dari kawasan Timur Tengah dan memperluas kerja sama energi dengan negara lain di kawasan Amerika, Afrika, maupun Asia Pasifik.
Di samping itu, Bias menilai Kementerian ESDM sudah harus mendorong Pertamina untuk mempercepat target produksi minyak nasional hingga 1 juta barel per hari.
"Langkah ini harus diiringi pembangunan infrastruktur energi, peningkatan kapasitas penyimpanan cadangan BBM nasional, serta dukungan kebijakan fiskal yang memadai," jelas dia.
Diketahui, kenaikan harga energi dipicu oleh konflik yang masih berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan tersebut turut memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Apabila konflik berlanjut, beberapa negara produsen energi memprediksi harga minyak bisa melonjak lebih tinggi.
Macron juga mengumumkan bahwa dua penerbangan pertama yang memulangkan warga negara Prancis dari Timur Tengah yang dilanda perang akan tiba di Paris pada Selasa, 3 Maret 2026 malam waktu setempat. ANTARA/Xinhua. (Antara)