Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas Minta Maaf Usai Pamer Anaknya Jadi WNA Inggris

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Feb 2026, 17:11
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Dwi Sasetyaningtyas dan Suami Dwi Sasetyaningtyas dan Suami (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Nama Dwi Sasetyaningtyas menjadi sorotan publik setelah video yang menampilkan paspor Inggris milik sang anak tersebar luas dan memicu perdebatan di media sosial. Sosok yang dikenal sebagai alumni penerima beasiswa LPDP itu akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah dihujani kritik oleh warganet.

Kontroversi tersebut meluas hingga memunculkan diskusi mengenai nasionalisme, tanggung jawab penerima beasiswa negara, serta fenomena brain drain yang belakangan sering diperbincangkan.

Dalam video yang diunggah melalui akun pribadinya, Dwi memperlihatkan dokumen kewarganegaraan Inggris milik anaknya. Ia menyampaikan rasa bahagia dan menyebut harapan agar anak-anaknya memiliki “paspor kuat WNA”. Ungkapan tersebut segera menimbulkan gelombang kritik.

Baca Juga: Suami Dwi Sesatyaningtyas Diduga Langgar Aturan LPDP Usai Pamer Sang Anak Jadi WNA

Banyak warganet menilai ucapannya seolah meremehkan paspor Indonesia serta tidak mencerminkan rasa nasionalisme, terlebih karena ia merupakan penerima beasiswa yang dibiayai dari dana publik. Meskipun video itu sudah dihapus, potongan rekaman terlanjur tersebar dan menjadi perbincangan luas di berbagai platform.

Klarifikasi dan Permintaan Maaf

Setelah kritik terus mengalir, Dwi akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi melalui media sosial. Ia mengakui bahwa ucapannya telah menimbulkan kegaduhan serta membuka peluang kesalahpahaman.

Ia menulis permintaan maaf dan menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk merendahkan bangsa sendiri, melainkan hanya mengekspresikan perasaan pribadi sebagai orang tua. Menurutnya, video itu tidak dimaksudkan sebagai bentuk sikap terhadap Indonesia.

Baca Juga: COO Danantara Lakukan Groundbreaking Pembangunan SDN 49 Batang Kabung

"Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan”, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.

Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.

Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.

Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.

Saya sangat menghargai setiap kritik dan masukan yang telah disampaikan secara baik dan konstruktif, sebagai pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, termasuk belajar berkomunikasi dengan lebih bijaksana, lebih jernih, dan lebih berempati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.

Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan.

Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati".

Permintaan maaf tersebut menjadi bahan diskusi baru di media sosial. Publik menyoroti bagaimana pernyataannya sebelumnya dianggap tidak sensitif, sementara sebagian lainnya melihat klarifikasinya sebagai langkah yang tepat. Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak LPDP mengenai polemik tersebut.

x|close