Ntvnews.id, Moskow - Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) menuding Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memberi lampu hijau bagi operasi intelijen yang ditujukan untuk menyingkirkan pihak-pihak yang disebut sebagai pemimpin yang tidak diinginkan di kawasan Afrika.
Dilansir dari Anadolu, Selasa, 3 Februari 2026, dalam pernyataan resminya, SVR menyebut pemerintahan Macron bertindak dengan panik untuk mengejar kebangkitan politik di Afrika, wilayah di mana pengaruh Prancis dinilai mengalami apa yang disebut badan itu sebagai kekalahan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Kemerosotan posisi itu, menurut SVR, berkaitan dengan naiknya kekuasaan di beberapa bekas koloni Prancis di Afrika dari kekuatan patriotik yang memprioritaskan kepentingan rakyat dan menolak untuk menjadi boneka oligarki keuangan dan politik globalis Prancis.
“Entah terinspirasi oleh operasi Amerika untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro atau membayangkan dirinya sebagai penentu nasib negara-negara Afrika, Macron mengizinkan dinas intelijennya untuk meluncurkan rencana untuk melenyapkan ‘pemimpin yang tidak diinginkan’ di Afrika,” ujar SVR, seperti dikutip dari Anadolu.
Baca Juga: FIFA Bakal Cabut Sanksi Rusia
Lembaga tersebut juga mengklaim bahwa keterlibatan Prancis dalam upaya kudeta di Burkina Faso pada 3 Januari tahun ini telah terbukti.
SVR menyebut dugaan skema tersebut mencakup rencana pembunuhan terhadap Presiden Burkina Faso Ibrahim Traore, yang digambarkan sebagai “salah satu pemimpin perjuangan melawan neokolonialisme.”
Menurut SVR, Paris berharap langkah itu dapat membuka jalan bagi berkuasanya kelompok pro-Prancis di Ouagadougou sekaligus melemahkan gerakan politik di Afrika yang mendorong kedaulatan dan paham Pan-Afrika.
Meski disebut gagal di Burkina Faso, SVR menuding Prancis kemudian mengalihkan perhatiannya untuk mengguncang stabilitas “negara-negara yang tidak diinginkan” di kawasan Sahel-Sahara.
Badan tersebut menilai upaya itu dilakukan “dengan bantuan kelompok teroris lokal dan, tentu saja, rezim Ukraina, yang memasok para militan dengan drone dan instruktur.”
“Serangan utama kelompok ini ditujukan terhadap Mali,” bunyi pernyataan itu, dengan merujuk pada serangan terhadap konvoi bahan bakar, upaya pengepungan kota, serta aksi teror terhadap warga sipil.
Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dalam sebuah konferensi pers saat Konferensi Tingkat Tinggu Dewan Eropa di Brussels, Belgia, pada 17 Oktober 2024. (ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe) (Antara)
Langkah-langkah tersebut, klaim SVR, dimaksudkan “untuk menciptakan kondisi bagi penggulingan Presiden Assimi Goita.”
Selain itu, SVR juga menuduh Prancis menjalankan skenario serupa terhadap Republik Afrika Tengah.
Target lain yang disebut adalah Madagaskar. SVR menyatakan bahwa pada Oktober 2025, kekuasaan di negara itu dipegang otoritas baru yang “mengambil arah untuk mengembangkan hubungan dengan BRICS.” Paris dituding berupaya menumbangkan Presiden Madagaskar Michael Randrianirina dan “memulihkan rezim yang loyal.”
“Prancis telah beralih untuk memberikan dukungan langsung kepada teroris dari berbagai kelompok, yang telah menjadi sekutu utamanya di benua Afrika,” kata SVR.
“kebangkrutan politik dari kebijakan Macron semakin terlihat jelas, karena ia gagal menghilangkan reputasi Prancis sebagai metropolis parasit yang menjarah bekas koloninya dan menghambat pembangunan mereka.” tambahnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, 20 Januari 2026. (Xinhua/Lian Yi) (Antara)