Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana peluncuran cadangan mineral penting strategis baru sebagai upaya memastikan sektor manufaktur Amerika Serikat terbebas dari ketergantungan terhadap China.
"Cadangan dengan nilai mencapai 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp201 triliun tersebut akan menjadi cadangan mineral penting pertama yang pernah ada dan dimanfaatkan untuk memastikan bahwa bisnis dan pekerja Amerika tidak pernah dirugikan oleh kekurangan apa pun," ujar Trump saat menyampaikan pengumuman di Gedung Putih, dikutip dari AFP, Selasa, 3 Februari 2026.
Trump menyinggung pengalaman sebelumnya ketika pasokan mineral penting sempat terganggu dan berdampak pada pasar global.
Baca Juga: Seskab Teddy: Presiden Prabowo Bertekad Memperbesar dan Menduniakan Garuda Indonesia
"Kita tidak ingin mengalami apa yang kita alami setahun yang lalu, meskipun pada akhirnya bisa diatasi," katanya di Ruang Oval. Pernyataan tersebut diduga merujuk pada kebijakan China yang sempat berencana menerapkan kontrol ekspor mineral penting sebelum akhirnya ditangguhkan.
Ia menegaskan, pembentukan cadangan mineral ini mengikuti pola kebijakan strategis yang telah lama diterapkan Amerika Serikat.
"Sama seperti kita telah lama memiliki cadangan minyak strategis dan cadangan mineral penting untuk pertahanan nasional, kita sekarang menciptakan cadangan ini untuk industri Amerika sehingga kita tidak mengalami masalah," akata Trump.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato di acara tahunan World Economic Forum di Davos, Swis, pada 21 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi) (Antara)
Inisiatif tersebut akan didukung pembiayaan dari Bank Ekspor-Impor AS sebesar 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp167,6 triliun, serta tambahan pendanaan sektor swasta senilai 2 miliar dolar AS atau setara Rp33,5 triliun.
Trump menyatakan keyakinannya bahwa pinjaman yang digunakan untuk membentuk cadangan tersebut tidak hanya bersifat strategis, tetapi juga berpotensi memberikan keuntungan finansial. Ia berharap pembiayaan tersebut dapat menghasilkan pendapatan dari bunga pinjaman.
Meski Trump tidak secara eksplisit menyebut China, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick secara terbuka menunjuk Beijing sebagai faktor utama di balik kebijakan tersebut.
Baca Juga: Bank Mandiri: Inflasi Terkendali Akibat Pasokan Pangan Kuat
"Presiden-presiden sebelumnya menganggap remeh Amerika. Mereka membiarkan mineral-mineral penting kita hanya dikendalikan oleh China. Mereka membiarkan bisnis pertambangan kita hancur dengan menutup semua tambang, menutup pembangkit listrik tenaga batu bara kita, sementara China membukanya," ujar Lutnick.
Ia menegaskan perubahan arah kebijakan pemerintah saat ini.
"Kita mengambil kembali mineral-mineral penting. Kita mengambil kembali pertambangan," pungkasnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/HO-Anadolu Ajensi/pri. (Antara)