Menag di Satu Abad NU Beberkan Dinamika Organisai: Diskusinya Sangat Panas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Jan 2026, 12:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Menteri Agama yang juga Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar Menteri Agama yang juga Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Agama yang juga Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar, menilai Nahdlatul Ulama telah memperlihatkan kedewasaannya sebagai organisasi keagamaan sekaligus kebangsaan sepanjang 100 tahun Masehi perjalanan perannya di Indonesia.

“Seratus tahun perjalanan PBNU bukanlah waktu yang pendek. Di sinilah NU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi keagamaan dan kebangsaan,” ujar Menag Nasaruddin Umar saat menghadiri peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.

Dalam sambutannya, Menag mengingatkan hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasa’i, yang menyebutkan bahwa Allah SWT. akan mengutus pada setiap akhir seratus tahun seorang ulama untuk memperbarui pemahaman keagamaan umat.

Baca Juga: Panglima TNI Agus Subiyanto Sampaikan Duka Cita, 23 Prajurit Marinir Gugur

Ia berpandangan, NU telah berperan signifikan dalam pembaruan substansi ajaran Islam agar tetap relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Menag juga menyebut NU pada hakikatnya merupakan pesantren besar, tempat berkembangnya dinamika keilmuan Islam yang sangat kuat. Di lingkungan pesantren, diskusi keagamaan kerap berlangsung intens, termasuk perdebatan mengenai berbagai mazhab fikih.

“Kadang diskusinya sangat panas, tetapi itulah bukti kuatnya tradisi keilmuan di pesantren,” katanya.

Menteri Agama yang juga Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar <b>(NTVnews)</b> Menteri Agama yang juga Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar (NTVnews)

Ia menegaskan pesantren dan NU tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling menopang dan menguatkan. Tradisi pesantren yang menjunjung tinggi adab santri kepada kiai, menurutnya, menjadi landasan penting dalam menjaga keharmonisan meskipun terdapat perbedaan pandangan.

“Seorang santri tetap sangat menghormati kiai, walaupun berbeda pendapat. Inilah kekuatan moral NU,” ujarnya.

Menag menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang penuh dinamika, namun tetap mampu merawat keharmonisan. Bahkan, NU dinilai memiliki kemampuan merangkul pihak di luar organisasi hingga merasa menjadi bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.

“NU ke depan akan menjadi wadah kekuatan besar bagi bangsa Indonesia,” katanya.

Baca Juga: Catherine O'Hara, Ibu Kevin di Home Alone Meninggal Dunia

Selain itu, Menag menyoroti tantangan yang akan dihadapi PBNU dan warga Nahdliyin di masa depan yang semakin kompleks. Perkembangan zaman yang bergerak lebih cepat dibandingkan kesiapan manusia, menurutnya, berpotensi menimbulkan cultural shock dan economic shock.

“Ke depan yang dibutuhkan adalah figur manajer dan pemimpin, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw., yang mampu menjadi the best leader dan the best manager,” ujarnya.

Menag berharap NU tetap konsisten mengedepankan moderasi umat. Ia menegaskan NU berpegang pada prinsip tidak menyamakan hal yang berbeda dan tidak membedakan hal yang sama.

“Biarkan yang sama itu sama, dan yang berbeda itu tetap berbeda. Namun semuanya hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Peringatan Harlah ke-100 tahun Masehi NU tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menko PMK Pratikno, serta para duta besar negara sahabat.

Hadir pula Mustasyar PBNU Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, perwakilan ketua umum partai politik, pengurus badan otonom dan lembaga NU, PWNU se-Indonesia, hingga PCNU dari seluruh Indonesia.

x|close