PII Dorong Penataan Lereng dan Hunian Usai Longsor Cisarua Bandung Barat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Jan 2026, 12:37
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Ilham Akbar Habibie. ANTARA/HO-dok pribadi. Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Ilham Akbar Habibie. ANTARA/HO-dok pribadi. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyampaikan duka cita mendalam kepada masyarakat yang terdampak bencana tanah longsor di kawasan Pasir Langu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Selain menyampaikan empati, PII juga mengemukakan sejumlah rekomendasi teknis untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa mendatang.

"Kami atas nama Persatuan Insinyur Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada warga terdampak bencana longsor di Cisarua, Bandung Barat. Semoga warga yang masih belum ditemukan segera dapat ditemukan dan dievakuasi. Melalui para ahli di PII, kami juga memberikan beberapa rekomendasi antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya longsor susulan, mengingat hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di beberapa wilayah," kata Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.

Ketua Badan Kebencanaan dan Perubahan Iklim (BKPI) PII I Wayan Sengara menyampaikan sejumlah langkah darurat yang perlu segera dilakukan, sekaligus upaya antisipasi apabila longsor masih berpotensi berlanjut.

"Langkah-langkah darurat yang diperlukan adalah mengevakuasi masyarakat dari zona rentan longsor baik potensi longsor susulan dengan potensi hujan yg masih akan berlanjut, ataupun pada kawasan lereng dengan tingkat risiko sangat tinggi," kata Wayan Sengara.

Baca Juga: BNPB Identifikasi 20 Jenazah Korban Longsor Cisarua

Menurut Wayan, yang juga Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, pola longsor yang terjadi di Pasir Langu memiliki kemiripan dengan sejumlah kejadian longsor lain selama musim hujan. Karena itu, rencana pengembangan kawasan hutan pegunungan untuk alih fungsi, baik menjadi perkebunan, pertambangan, maupun permukiman, harus didahului kajian risiko yang komprehensif, terutama terkait potensi longsor dan banjir.

"Intinya kelongsoran yang telah terjadi ataupun pengurangan risiko longsor ke depan perlu ditangani secara sistematis dan profesional,” kata Wayan.

Ia menjelaskan, longsor umumnya terjadi pada lereng dengan tingkat kerentanan tinggi, terutama ketika dipicu curah hujan besar. Kerentanan tersebut kerap meningkat akibat alih fungsi lahan dari kondisi alaminya.

"Lereng-lereng dengan tingkat kerentanan tinggi umumnya terjadi pada lereng-lereng yg mengalami alih fungsi dari kondisi stabilnya secara alamiah sebelumnya. Lereng tersebut dulunya memiliki kerentanan yg lebih rendah, dengan adanya kawasan hutan ataupun vegetasi yang lebih padat dengan kemampuan akar vegetasi yg membantu memperkuat stabilitas lereng dan juga mengurangi kadar air tanah saat hujan," ujarnya.

Wayan menambahkan, pada lereng rentan, lapisan tanah mudah mengalami penjenuhan air sehingga kekuatan tanah menurun drastis.

Baca Juga: TNI Angkatan Laut Benarkan 23 Marinir Tewas Tertimbun Longsor Cisarua Bandung Barat

"Mestinya kondisi tidak jenuhnya tanah tersebut perlu dipertahankan karena kondisi tanah tidak jenuh bisa mempertahankan kuat-geser lapisan tanah hingga tidak mudah longsor," kata Wayan.

Sementara itu, ahli kebencanaan dan kegunungapian yang juga anggota BKPI-PII Surono menyoroti karakteristik wilayah Jawa Barat yang subur namun memiliki kerentanan gerakan tanah di daerah perbukitan.

"Namun, daerah perbukitan dengan kemiringan sedang hingga terjal di wilayah Jawa Barat memiliki kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi. Oleh karena itu, permukiman masyarakat agar tidak dibangun di atas, pada dan di bawah lereng," kata Surono.

Surono yang akrab disapa Mbah Rono juga menceritakan kedekatan lokasi longsor dengan tempat tinggalnya.

"Itu tidak jauh dari rumah saya di Bandung. Ada kebun kecil dekat daerah longsor, warga yang membantu mengerjakan kebun saya menelpon saya, ternyata dia sedang membantu mencari korban yang tertimbun longsor," katanya.

Mbah Rono yang baru terpilih sebagai anggota Dewan Energi Nasional (DEN) turut memberikan sejumlah saran mitigasi, mulai dari penanganan retakan tanah hingga penanaman vegetasi berakar kuat.

Baca Juga: AHY Instruksikan Kementerian PU Tangani Longsor di Cisarua Bandung Barat

"Bila retakan bertambah lebar dan panjang, segera lakukan evakuasi ke daerah yg aman. Pada daerah dengan kemiringan sedang hingga terjal, apalagi pernah terjadi longsor, agar ditanami pohon dengan berakar kuat dan dalam untuk menghambat kejadian gerakan tanah atau longsor," ujarnya.

Ia juga menyinggung kearifan lokal Jawa Barat yang relevan untuk mitigasi bencana. Mulai dari prinsip "pasir diawian" atau bukit ditanami pohon, "datar disawahan" untuk pemanfaatan lahan datar, hingga "legok dibalongan" yang menempatkan kolam di daerah cekungan.

"Kearifan lokal Jawa Barat ini sangat bagus. Dari sisi keinsinyuran, ini sangat bagus dalam strategi mitigasi bencana gerakan tanah atau tanah longsor. Sehingga menurut saya, daerah bencana tidak layak untuk hunian," ujar Mbah Rono.

Menutup pernyataannya, Wayan menegaskan peristiwa longsor di Pasir Langu harus menjadi pelajaran bersama dalam menata ruang secara lebih bijaksana dan profesional. Ia menekankan pentingnya pemetaan kawasan rawan longsor, identifikasi tingkat kerentanan dan risiko, serta perumusan langkah pengurangan risiko yang sistematis.

"Dengan sistematika dan strategi ini diharapkan potensi korban dan kerugian akan lebih rendah," kata Wayan.

(Sumber: Antara) 

x|close