Melunaknya Trump pada Sekutu Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Jan 2026, 15:16
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato di acara tahunan World Economic Forum di Davos, Swis, pada 21 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi) Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato di acara tahunan World Economic Forum di Davos, Swis, pada 21 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi) (Antara)

Ntvnews.id, Davos - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan mencabut ancaman pengenaan tarif terhadap sejumlah negara Eropa yang sebelumnya menentang rencananya terkait Greenland.

Langkah tersebut diambil setelah Trump menggelar pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dan mengklaim telah tercapai kerangka kesepakatan jangka panjang mengenai masa depan Greenland.

Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, Kamis, 22 Januari 2026, sebagaimana dikutip AFP, Trump sempat menyebut Denmark sebagai negara yang “tidak tahu berterima kasih”. Meski demikian, ia menegaskan tidak berniat menempuh jalur kekerasan terkait isu Greenland yang merupakan wilayah otonomi Denmark.

"Saya tidak ingin menggunakan kekerasan. Saya tidak akan menggunakan kekerasan. Yang diminta Amerika Serikat hanyalah sebuah tempat bernama Greenland," ucap Trump.

Melalui pernyataan terpisah di platform Truth Social, Trump menunjukkan perubahan sikap dengan menyampaikan bahwa telah ada kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland. Ia menyebut kesepakatan yang dirundingkan bersama Mark Rutte tersebut akan bersifat permanen.

Baca Juga: Kekeuh Ingin Greenland, Trump sebut Eropa Tanpa AS Saat Ini Berbahasa Jerman dan Jepang

"Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif yang telah saya lakukan dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh wilayah Arktik," kata Trump.

"Solusi ini, jika terwujud, akan menjadi solusi yang sangat baik bagi Amerika Serikat dan semua negara NATO," sebutnya.

Trump juga mengumumkan pembatalan rencana pemberlakuan tarif dagang terhadap negara-negara Eropa yang sebelumnya menentang langkah AS terkait Greenland. Ia menegaskan kebijakan tarif yang semula dijadwalkan berlaku pada 1 Februari resmi dibatalkan.

"Berdasarkan pemahaman ini, saya tidak akan memberlakukan tarif yang dijadwalkan berlaku pada 1 Februari," ucap Trump.

Trump Unggahan Editan Greenland Jadi Wilayah AS <b>(Istimewa)</b> Trump Unggahan Editan Greenland Jadi Wilayah AS (Istimewa)

Sebelumnya, Trump berencana mengenakan tarif sebesar 10 persen mulai 1 Februari 2026 terhadap delapan negara Eropa, yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Tarif tersebut bahkan direncanakan meningkat hingga 25 persen pada Juni 2026.

Lebih jauh, Trump menilai sikap melunak tersebut sebagai sebuah kemenangan bagi Amerika Serikat. Ia menyebut kesepakatan yang sedang dibangun akan memberikan keuntungan maksimal bagi AS.

Meski begitu, isi detail kerangka kesepakatan tersebut belum diungkap secara jelas. Saat ditanya apakah Amerika Serikat akan memperoleh kedaulatan atas Greenland, Trump tidak memberikan jawaban tegas dan hanya menekankan sifat jangka panjang dari kesepakatan tersebut.

"Ini adalah kesepakatan jangka panjang yang paling utama," ujarnya.

Baca Juga: Donald Trump Tiba di Davos Naik Heli, Siap Pidato di World Economic Forum

"Saya pikir ini menempatkan semua orang pada posisi yang sangat baik, terutama yang berkaitan dengan keamanan, mineral, dan segalanya," tambah Trump.

Sementara itu, Mark Rutte menyatakan bahwa isu kedaulatan Greenland tidak menjadi bagian pembahasan dalam pertemuannya dengan Trump. Saat diwawancarai Fox News, Rutte hanya menyampaikan bahwa NATO akan terus berfokus menjaga keamanan kawasan Arktik dari potensi ancaman negara lain.

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ucap Rutte kepada AFP.

Juru bicara NATO Allison Hart menambahkan bahwa Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat akan terus bernegosiasi guna memastikan kawasan tersebut tidak menjadi pijakan bagi Rusia maupun China, baik secara ekonomi maupun militer kekhawatiran yang sebelumnya juga disampaikan oleh Trump.

x|close