Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa di Nusantara Ballroom, NT Tower, Kamis (15/1/2026), menegaskan peran strategis lembaga filantropi sebagai pilar kepercayaan publik di tengah kompleksitas tantangan sosial, ekonomi, dan tata kelola nasional.
Diskusi bertema “Lembaga Filantropi dalam Pemberdayaan Berdampak Selaras dengan Asta Cita” ini menghadirkan Dewan Pengawas Syariah Dompet Dhuafa Wahfiudin Sakkam, Director of IDEAS Agung Pardini, anggota Advisory Board Dompet Dhuafa Yudi Latif, Head of Innovation and Literacy Division Forum Zakat Dr. Eko Muliansyah, dengan Dede Apriadi (Commercial Director of NTV) sebagai moderator.
Anggota Advisory Board Dompet Dhuafa, Yudi Latif, menilai meningkatnya pertumbuhan filantropi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari krisis kepercayaan masyarakat terhadap negara dan pasar.
“Pertumbuhan filantropi memang terus naik, tetapi pada saat yang sama problematika kehidupan juga semakin kompleks. Ini menunjukkan bahwa di tengah krisis kepercayaan terhadap negara dan market, masyarakat masih menaruh harapan besar kepada lembaga filantropi,” ujar Yudi.
Menurutnya, secara historis komunitas merupakan fondasi utama lahirnya negara dan pasar. Oleh karena itu, ketika dua pilar tersebut mengalami guncangan, sandaran terakhir masyarakat berada pada kekuatan komunitas dan filantropi.
Baca Juga: Dompet Dhuafa Gelar Humanitarian Summit, Jangkau 41,8 Juta Penerima Manfaat Sepanjang 2025
“Harapan dan kepercayaan terakhir masyarakat hari ini ada di organisasi-organisasi filantropi. Kalau filantropi tidak naik level, tidak trustable, dan tidak mampu memperluas dampaknya, maka Indonesia bisa kehilangan sendi penting dalam usaha kemanusiaan dan kesejahteraan,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Eko Muliansyah dari Forum Zakat menyoroti meningkatnya kecerdasan masyarakat dalam berfilantropi. Ia menyebut masyarakat kini tidak lagi sekadar tergerak secara emosional, tetapi semakin kritis dan rasional.
“Umat sekarang ini semakin cerdas. Mereka tahu kapan harus berzakat dan kapan harus menginjak rem. Inilah yang membuat lembaga filantropi harus lebih serius dalam edukasi, literasi, dan inovasi,” jelas Eko.
Ia menambahkan bahwa Forum Zakat mendorong kolaborasi antarlembaga sebagai kekuatan utama filantropi nasional.
“Kalau kekuatan ini disatukan, seperti jaring laba-laba, ia akan menjadi sangat kuat dan mampu memberikan rasa aman bagi umat. Kolaborasi adalah kunci agar filantropi benar-benar berdampak,” ujarnya.
Dari perspektif lapangan, Wahfiudin Sakkam, Dewan Pengawas Syariah Dompet Dhuafa, mengungkap realitas rendahnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap sistem formal, khususnya terkait pajak dan tata kelola keuangan negara.
“Banyak pengusaha yang sebenarnya tidak berani meninggalkan zakat karena itu urusannya dengan Tuhan. Tetapi mereka takut menyalurkannya melalui lembaga resmi karena khawatir dampak pajak dan transparansi,” ungkap Wahfiudin.
Ia menyebut fenomena meningkatnya transaksi zakat dan sedekah tanpa identitas sebagai cerminan kondisi tersebut.
Baca Juga: Hadiri Humanitarian Summit Dompet Dhuafa, Anis Matta Tekankan Filantropi sebagai Healing Psikologis
“Tingkat kebocoran anggaran negara tinggi, tapi kemauan orang untuk bersedekah tetap besar. Ini menunjukkan iman masyarakat masih kuat, meski kepercayaan pada sistem perlu terus dibenahi,” tambahnya.
Menurut Wahfiudin, filantropi memiliki potensi besar untuk menjadi pilar keuangan pembangunan nasional yang melengkapi pilar fiskal dan moneter, asalkan didukung integritas dan tata kelola yang kuat.
Dalam diskusi tersebut, Yudi Latif juga menekankan pentingnya membawa filantropi Indonesia ke level global. Menurutnya, posisi geografis Indonesia yang rawan bencana justru menjadi peluang strategis.
“Indonesia ini negeri anugerah sekaligus negeri bencana. Karena itu, disaster relief dan mitigasi bencana harus menjadi keahlian khas filantropi Indonesia, bukan hanya responsif di hilir, tetapi juga preventif dan berkelanjutan,” katanya.
Ia mendorong penguatan filantropi berbasis lingkungan, ekonomi hijau, serta inovasi sosial yang mampu mentransformasi masyarakat dari sekadar penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi berkelanjutan.
Indonesia Humanitarian Summit 2026 menegaskan bahwa filantropi kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai aktivitas kedermawanan, melainkan sebagai bagian penting dari arsitektur pembangunan nasional.
Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan lembaga filantropi, para narasumber optimistis filantropi dapat menjadi kekuatan strategis dalam mewujudkan visi pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan Asta Cita dan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa (YouTube)