AS Ajukan Penyitaan Puluhan Kapal Tanker Terkait Perdagangan Minyak Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Jan 2026, 13:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
AS Sita Kapal Tanker Russia yang Angkut Minyak dari Venezuela AS Sita Kapal Tanker Russia yang Angkut Minyak dari Venezuela (Anadolu Agency)

Ntvnews.id, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan mengajukan permohonan surat perintah pengadilan untuk menyita puluhan kapal tanker tambahan yang diduga terlibat dalam perdagangan minyak Venezuela. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari langkah Washington untuk memperkuat kendali atas arus pengiriman minyak yang keluar dan masuk Venezuela.

Dilansir dari AsiaOne, Rabu, 14 Januari 2026, militer AS bersama Penjaga Pantai AS telah menyita lima kapal dalam beberapa pekan terakhir di perairan internasional. Kapal-kapal tersebut diketahui sedang mengangkut minyak Venezuela atau pernah melakukannya sebelumnya.

Langkah penyitaan ini disebut sebagai bagian dari kampanye Amerika Serikat untuk menekan Presiden Venezuela Nicolas Maduro agar lengser dari kekuasaan, yang puncaknya ditandai dengan penangkapannya oleh pasukan AS pada 3 Januari lalu.

Sejak penangkapan tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan berencana menguasai sumber daya minyak Venezuela untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, sambil berupaya membangkitkan kembali industri minyak negara itu yang tengah terpuruk.

Baca Juga: Trump Klaim Kuba Tak Akan Bertahan Tanpa Pasokan Minyak Venezuela

Pada Desember lalu, Trump memberlakukan blokade guna mencegah kapal-kapal tanker yang terkena sanksi mengangkut minyak Venezuela, sehingga ekspor hampir terhenti. Namun, pengiriman kembali berjalan pekan ini dengan pengawasan ketat dari Amerika Serikat.

Langkah Hukum Jadi Dasar Penyitaan

Amerika Serikat, menurut para sumber, telah mengajukan sejumlah gugatan perdata perampasan aset (civil forfeiture) di pengadilan distrik, terutama di Washington DC. Gugatan tersebut memungkinkan penyitaan kargo minyak sekaligus kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan tersebut. Para sumber enggan disebutkan namanya karena sensitivitas kasus.

Jumlah pasti surat perintah penyitaan yang diajukan maupun yang telah dikabulkan belum diketahui karena dokumen hukum tersebut tidak dipublikasikan. Meski demikian, para sumber memperkirakan jumlahnya mencapai puluhan.

Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Dalam aksi solidaritas tersebu <b>(Antara)</b> Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Dalam aksi solidaritas tersebu (Antara)

Departemen Kehakiman AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait langkah tersebut.

Kapal-kapal yang sebelumnya dicegat diketahui berada di bawah sanksi AS atau termasuk dalam “armada bayangan”, yakni kapal-kapal tak teregulasi yang menyamarkan identitas untuk mengangkut minyak dari negara-negara yang dikenai sanksi seperti Iran, Rusia, dan Venezuela.

Hingga kini, masih banyak kapal tanker yang berlayar membawa minyak mentah Venezuela ke pembeli utama seperti Tiongkok, atau yang sebelumnya pernah melakukannya. Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap banyak kapal tersebut karena dianggap memfasilitasi perdagangan minyak dengan Venezuela maupun Iran.

Para sumber menyebut sempat terjadi jeda dalam aksi penyitaan sejak Jumat lalu. Namun, tindakan penegakan hukum dapat kembali dilanjutkan terhadap kapal dan kargo yang tidak memperoleh otorisasi dari Amerika Serikat.

Baca Juga: 30.000 Pasukan Kolombia Disiagakan di Perbatasan Venezuela

Departemen Pertahanan AS bersama lembaga terkait lainnya menegaskan akan terus melakukan operasi tersebut. “memburu dan mencegat SEMUA kapal armada gelap yang mengangkut minyak Venezuela pada waktu dan tempat yang kami tentukan,” kata juru bicara Pentagon Sean Parnell pada Jumat melalui platform X.

Dalam penyitaan terbaru, AS menargetkan tidak hanya muatan, tetapi juga kapal pengangkutnya. Hal ini menandai eskalasi dibandingkan periode 2020–2023, ketika penegak hukum AS hanya menyita kargo minyak Iran tanpa mengambil alih kapalnya, menurut sumber industri pelayaran.

Jaksa Agung AS Pam Bondi pada 7 Januari menyatakan Departemen Kehakiman tengah “memantau sejumlah kapal lain untuk tindakan penegakan hukum serupa,” setelah penyitaan kapal tanker Bella-1 yang tidak bermuatan. Penyitaan tersebut merupakan yang pertama dalam beberapa waktu terakhir terhadap kapal berbendera Rusia oleh militer AS.

Rusia, seperti halnya Venezuela, diketahui mengandalkan armada bayangan untuk mengangkut minyak yang dikenai sanksi. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam langkah tersebut sebagai “penggunaan kekuatan secara ilegal” oleh militer AS dan menilai penerapan sanksi Amerika Serikat “tidak memiliki dasar hukum."

x|close