JK Tegaskan Zakat, Wakaf dan Pajak Tak Perlu Dipertentangkan di Tengah Polemik Ramadhan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Mar 2026, 18:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menanggapi polemik pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenai zakat yang menjadi perbincangan publik di bulan suci Ramadhan.

JK menegaskan bahwa zakat, wakaf, serta bentuk sumbangan keagamaan lainnya sama-sama memiliki kontribusi besar dalam kehidupan umat Islam di Indonesia.

Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, ia menyampaikan bahwa pembangunan masjid maupun lembaga pendidikan Islam selama ini tidak hanya mengandalkan zakat, tetapi juga wakaf dan donasi masyarakat. Menurutnya, ketiganya berjalan berdampingan dan tidak semestinya dipertentangkan.

"Sebenarnya benar. Di Indonesia itu zakat itu penting, wajib, dan sumbangan wakaf dan lain juga jalan, dua-duanya jalan. Ada 800 ribu masjid itu tidak dibangun dengan zakat, dibangun dengan wakaf, sumbangan, dan sebagainya," kata JK kepada wartawan di kediamannya di Jakarta, Minggu, 1 Maret 2026.

Baca Juga: Trump Klaim Sudah Ketahui Sosok Calon Pemimpin Iran Pasca Kematian Khamenei

Ia menambahkan bahwa banyak madrasah dan sekolah Islam berdiri berkat dana wakaf dan sumbangan umat. Oleh sebab itu, seluruh bentuk kedermawanan tersebut perlu dilihat sebagai satu kesatuan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umat.

"Berapa madrasah, berapa sekolah, berapa itu semua dibangun dengan sumbangan zakat, wakaf. Jadi semuanya semua penting," tegas JK.

JK juga menyinggung perbandingan antara zakat dan pajak yang kerap memicu perdebatan. Ia menjelaskan bahwa keduanya memiliki dasar perhitungan berbeda sehingga tidak dapat disamakan begitu saja.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla <b>(NTVnews)</b> Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (NTVnews)

"Zakat itu dengan pajak hampir sama. Pajak penghasilan diukur dari keuntungan 20 persen, 25 persen keuntungan. Kalau zakat walaupun kecil tapi diukur dari aset jadi besar akibatnya," jelasnya.

Menurut JK, kesalahpahaman dalam memahami basis penghitungan zakat sering menimbulkan polemik yang tidak perlu. Ia pun mengajak umat Islam untuk meningkatkan kapasitas ekonomi agar manfaat zakat semakin optimal.

Baca Juga: Trump Klaim Sudah Ketahui Sosok Calon Pemimpin Iran Pasca Kematian Khamenei

"Kalau anda punya aset 1.000, paling tinggi keuntungannya 50. Jadi 25 persen kali 50. Tapi aset itu 2,5 persen kali 1.000 itu. Jadi salah hitung itu bahwa cuma aset itu banyak dimiliki bukan orang Islam. Jadi kita orang Islam harus meningkatkan kemampuan," ujarnya.

Ia berharap perdebatan mengenai zakat tidak berkembang berlebihan dan mengganggu kekhusyukan Ramadan.

"Nah sedikit supaya mengurangi debat liar di sini," pungkas JK.

x|close