Ntvnews.id, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia sekaligus Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, menyampaikan pandangannya terkait konflik yang terjadi oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Hal tersebut disampaikan secara langsung di kediaman pribadinya di Jalan Brawijaya, Jakarta, pada Minggu, 1 Maret 2026. JK mengatakan, situasi global saat ini sangat memprihatinkan.
"Dalam bulan suci Ramadan ini, kita merasa sangat prihatin begitu banyak perang di dunia ini, khususnya menyangkut di dunia Islam. Kemarin kita mengetahui bagaimana Amerika-Israel menyerang Iran. Padahal Iran dan Amerika sedang berunding. Dari segi etik, kalau sedang berunding jangan serang kan?” ujarnya.
Baca Juga: 3 Pejabat Iran Jalankan Tugas Pemimpin Tertinggi Pasca Gugurnya Ali Khamenei
JK menegaskan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip etika serta harapan banyak pihak.
"Ini memang keadaan yang bagi kita semua sangat memprihatinkan karena gejala Amerika menyerang apa saja yang mereka tidak sesuai dengan pandangan-pandangannya. Venezuela tidak menyerang tapi menculik, Iran, juga negara-negara lain yang dulu Afghanistan, Irak, Syiria. Ini memang suatu hal yang menjadi bagian keprihatinan kita kepada masalah Amerika dengan sifat dan kekejaman dilakukan oleh Iran ini.” jelasnya.
Lebih lanjut, JK menyatakan kesedihannya atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Menurutnya, kematian sosok tersebut menambah kompleksitas konflik yang tengah berlangsung di Iran.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (NTVnews)
"Kita tentu sangat bersedih bahwa pimpinan Iran Ali Khamenei wafat. Walaupun tentu juga di Iran sendiri terjadi pergolakan. Banyak di Iran ada tiga kelompok, kelompok pemerintah, juga kelompok yang ingin perubahan reformasi setelah 39 tahun yang terjadi, kita tahu begitu banyak demonstrasi sebulan yang lalu. Kemudian kelompok monarki yang lama Pahlavi (Mohammaed Reza Pahlavi pemimpin tertinggi Iran Sebelumnya). Nah, ini dua kelompok ini tentu senang saja adanya situasi ini. Jadi tidak semua memang Iran itu ada suatu, namun demikian dengan membunuh pimpinan Ali Khamenei itu juga suatu hal yang sangat kita sayangkan dan kita bersedih dan berduka karena hal tersebut.” paparnya.
JK juga mengingatkan posisi Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, terutama di bulan Ramadan, yang seharusnya menjadi momentum perdamaian dan doa bersama.
"Dan Indonesia tentu sebagai negara yang mayoritas Islam, apalagi di bulan Ramadan ini tentu berupaya bagaimana kita setidak-tidaknya menyerukan, mendoakan ini agar berhenti segera situasi ini. Karena untuk mendamaikan itu sulit sekali dan tidak mungkin kita lakukan seperti apa yang kita harapkan seperti itu.” imbuhnya.
Baca Juga: BGN dan Kemkomdigi Perkuat Sinergi Tangkal Hoaks Program Makan Bergizi Gratis
Ia mengakhiri paparannya dengan harapan bahwa situasi global yang semakin menegangkan ini cepat berakhir, agar tak memperluas dampak konflik yang sudah menelan banyak korban di berbagai negara.
Sebagi informasi, serangan udara AS dan Israel dilaporkan menghantam kota-kota di 24 provinsi Iran, hanya dua hari sebelum agenda perundingan di Wina terkait program nuklir Iran. Pertemuan yang dijadwalkan pada Senin merupakan putaran keempat dialog antara delegasi Iran dan AS sepanjang Februari.
Serangan Iran Israel Serangan Iran Israel (Istimewa)
Putaran sebelumnya digelar di Jenewa pada Kamis lalu, di mana Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi yang berperan sebagai mediator menyampaikan adanya kemajuan dalam pembicaraan.
Namun pada 28 Februari 2026, AS dan Israel tetap melancarkan serangan yang oleh Iran dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Republik Islam. Teheran menyebut sejumlah fasilitas pertahanan dan sipil di berbagai kota menjadi sasaran.
Iran secara resmi mengonfirmasi kematian Ali Khamenei akibat serangan tersebut dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (NTVnews)