Ntvnews.id, Washington - Jumlah korban tewas akibat gelombang protes di Iran dilaporkan meningkat menjadi 646 orang. Data tersebut disampaikan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat pada Senin, 12 Januari 2026.
Berdasarkan catatan HRANA, hingga hari ke-16 protes nasional di Iran, sebanyak 10.721 orang telah ditangkap aparat keamanan. Selain itu, organisasi tersebut melaporkan bahwa Iran mengalami pemadaman internet dengan total durasi lebih dari 100 jam sejak aksi protes berlangsung.
Iran dilanda demonstrasi besar sejak akhir bulan lalu, yang bermula pada 28 Desember 2025 di kawasan Grand Bazaar, Teheran. Aksi tersebut dipicu oleh melemahnya nilai tukar rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi. Dalam perkembangannya, unjuk rasa menyebar ke berbagai kota lain di negara tersebut.
Baca Juga: Menlu Iran Pastikan Situasi Gelombang Protes Terkendali, Internet Masih Dibatasi
Sejumlah pejabat Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik dukungan terhadap apa yang mereka sebut sebagai "perusuh bersenjata," yang dituduh melakukan sejumlah serangan di ruang publik di berbagai wilayah Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu, 11 Januari 2026, menyatakan bahwa pemerintahannya terus memantau situasi di Iran secara saksama dan tengah mempertimbangkan langkah-langkah tegas menyusul bertambahnya jumlah korban jiwa.
"Kita akan mengambil keputusan," kata Trump.
Presiden AS itu menambahkan bahwa pihaknya menerima laporan perkembangan situasi di Iran setiap jam, namun tidak merinci kapan, di mana, maupun bagaimana Amerika Serikat akan bertindak.
Baca Juga: Trump Berlakukan Tarif 25 Persen untuk Negara yang Masih Berdagang dengan Iran
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)