PBB Nilai Penarikan AS dari Kerja Sama Iklim Berpotensi Merugikan Ekonomi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 19:00
thumbnail-author
Satria Angkasa
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell. (Xinhua) Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell. (Xinhua) (Antara)

Ntvnews.id, Berlin - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai keputusan Amerika Serikat (AS) untuk keluar dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) berpotensi melemahkan keamanan dan kesejahteraan ekonomi negara tersebut.

Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell menyampaikan bahwa langkah tersebut justru akan berdampak negatif terhadap ekonomi, lapangan kerja, serta standar hidup masyarakat AS, terutama di tengah meningkatnya intensitas bencana akibat perubahan iklim.

"Di saat semua negara lain melangkah maju bersama, langkah mundur terbaru dari kepemimpinan global, kerja sama iklim, dan ilmu pengetahuan ini hanya akan merugikan ekonomi, pekerjaan, dan standar hidup AS, seiring kebakaran hutan, banjir, badai dahsyat, dan kekeringan menjadi semakin parah," ujar Stiell dalam pernyataannya pada Kamis, 8 Januari 2026 waktu setempat.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Rabu, 7 Januari 2026 menandatangani sebuah memorandum yang menginstruksikan penarikan Amerika Serikat dari 66 organisasi internasional, termasuk di antaranya kerangka kerja iklim PBB.

Menurut Stiell, keputusan tersebut berisiko menimbulkan beban ekonomi yang besar bagi masyarakat dan dunia usaha di Amerika Serikat.

Baca Juga: China Tegaskan Peran PBB di Tengah Penarikan AS dari Organisasi Internasional

"Ini berarti energi, makanan, transportasi, dan asuransi yang semakin tidak terjangkau bagi rumah tangga dan bisnis Amerika, seiring energi terbarukan menjadi semakin murah dibanding bahan bakar fosil, seiring bencana yang dipicu iklim menghantam tanaman, bisnis, dan infrastruktur Amerika dengan lebih keras setiap tahunnya, dan seiring volatilitas minyak, batu bara, dan gas memicu lebih banyak konflik, ketidakstabilan regional, dan migrasi paksa," ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi hilangnya kesempatan kerja di sektor manufaktur di Amerika Serikat, seiring negara-negara dengan perekonomian besar lainnya terus meningkatkan investasi di sektor energi bersih.

Stiell menegaskan bahwa peningkatan investasi tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi di berbagai negara, sementara Amerika Serikat berisiko tertinggal jika memilih mundur dari kerja sama iklim global.

(Sumber: Antara)

x|close