Australia Uji Klinis Obat dari Racun Laba-Laba, Bisa Selamatkan Penderita Serangan Jantung dan Stroke

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 10:13
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pulau dan bendera Australia. (ANTARA/pixabay/pri.) Ilustrasi - Pulau dan bendera Australia. (ANTARA/pixabay/pri.) (Antara)

Ntvnews.id, Sydney - Sebuah pengobatan yang berpotensi menyelamatkan nyawa untuk serangan jantung dan stroke, yang berasal dari racun salah satu laba-laba paling mematikan di dunia, telah memasuki uji coba pada manusia, kata para peneliti di Australia pada Kamis, 8 Januari 2026.

Studi klinis fase 1 yang sedang berjalan akan menilai keamanan, tolerabilitas, dan dosis dari IB409, obat baru yang dikembangkan dari molekul yang ditemukan dalam racun laba-laba jaring corong (funnel-web) Australia oleh perusahaan bioteknologi Infensa Bioscience, menurut pernyataan dari Universitas Queensland di Australia.

Profesor Glenn King dari Institut Biosains Molekuler di universitas tersebut mengatakan bahwa timnya telah mempublikasikan hasil praklinis yang "sangat menjanjikan" dengan Hi1a, protein yang berasal dari racun laba-laba funnel-web di Fraser Island, Negara Bagian Queensland.

Baca Juga: Australia Imbau Warganya Segera Tinggalkan Iran

"Kami percaya bahwa Hi1a dapat mengurangi kerusakan pada jantung dan otak saat serangan jantung dan stroke dengan mencegah kematian sel yang disebabkan oleh kekurangan oksigen," kata King.

Dia menambahkan bahwa timnya telah menetapkan bahwa Hi1a secara efektif melindungi jantung, dengan studi lanjutan yang mengujinya dalam tes praklinis dan meniru skenario pengobatan di kehidupan nyata.

Tim Infensa telah mengubah Hi1a menjadi IB409, miniatur peptida yang cocok untuk pengembangan obat, menurut pernyataan UQ.

"Jika uji klinis Fase 1 dan setelahnya terhadap IB409 menunjukkan bahwa obat ini dapat dengan aman dan efektif mengobati serangan jantung, kita dapat meningkatkan kualitas hidup jutaan orang yang mengidap penyakit jantung di seluruh dunia," kata CEO Infensa sekaligus peneliti UQ, Profesor Mark Smythe.

Smythe menekankan bahwa saat ini belum ada obat yang dapat mencegah kerusakan yang disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.

Baca Juga: Pemain Timnas Putri Australia Resmi Menikah Sesama Jenis

(Sumber: Antara) 

x|close