BMKG Waspadai Ancaman Bencana Hidrometeorologi Basah Akhir 2026 hingga Awal 2027

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Okt 2026, 18:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani. (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah yang diperkirakan terjadi pada akhir 2026 hingga awal 2027.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemunduran sekitar 20 hingga 30 hari. Meski intensitas hujan secara umum diperkirakan berada dalam kategori normal, curah hujan berpotensi turun dalam waktu yang lebih singkat sehingga risiko bencana perlu diantisipasi.

“Jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek. Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama,” ujar Teuku Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.

Di sisi lain, BMKG terus memperkuat upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Kedua provinsi tersebut masih menghadapi tingkat kebakaran yang cukup tinggi.

Sebagai bagian dari penanganan karhutla, operasi modifikasi cuaca (OMC) digencarkan dengan melibatkan 15 pesawat. Sebanyak sembilan pesawat beroperasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sedangkan enam pesawat lainnya dikerahkan ke Sumatera Selatan.

“Harapannya, minggu ini menjadi periode basah sehingga ada potensi hujan. Kami akan bekerja keras untuk memadamkan semaksimal mungkin kebakaran yang terjadi, khususnya di dua provinsi yang saat ini masih memiliki tingkat kebakaran cukup tinggi, yaitu Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah,” kata Teuku Faisal.

BMKG juga memantau peluang pertumbuhan awan yang dapat mendukung terjadinya hujan. Di Kalimantan Tengah, potensi pertumbuhan awan diperkirakan cukup tinggi mulai Senin hingga lima hari mendatang. Sementara itu, di Sumatera Selatan, peningkatan potensi pertumbuhan awan diprediksi berlangsung mulai Selasa hingga lima hari berikutnya.

Pelaksanaan OMC melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan TNI. Dalam operasi ini, petugas mengombinasikan penggunaan *dry ice* dan natrium klorida (NaCl) atau garam, dengan dukungan pesawat Hercules serta CN-295 milik TNI.

Untuk mendukung penentuan wilayah prioritas penanganan karhutla, BMKG telah menyiapkan pemetaan risiko hingga tingkat kecamatan. Data tersebut disusun secara mingguan untuk periode hingga akhir November dan akan menjadi bahan koordinasi bersama BNPB serta instansi terkait.

Sementara itu, informasi mengenai luas lahan yang masih terbakar diminta untuk dikonfirmasi langsung kepada Kepala BNPB. Langkah ini dilakukan agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap terkoordinasi melalui satu pintu.

x|close