BMKG Kerahkan OMC untuk Kurangi Asap Karhutla dan Cegah Mundurnya Musim Hujan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Okt 2026, 04:57
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi kepekatan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini juga dilakukan untuk mengantisipasi potensi mundurnya awal musim hujan di wilayah terdampak.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan musim hujan diperkirakan mulai memasuki sejumlah wilayah Indonesia pada November 2026. Adapun puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

"Kalau kepekatan asap tidak bisa kita kurangi, kita khawatir musim hujan masuknya bisa lebih mundur lagi sehingga kepekatan itu dibongkar dengan melakukan OMC, operasi modifikasi cuaca," ujar Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, upaya modifikasi cuaca telah dilaksanakan di sejumlah provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla. Selain menggunakan natrium klorida (NaCl) untuk penyemaian awan, pemerintah juga memanfaatkan dry ice untuk membantu menembus lapisan atmosfer yang menahan asap kebakaran.

Baca Juga: BMKG Deteksi 3.663 Titik Panas di Sumatera

Dalam pelaksanaannya, BMKG turut menjalin kerja sama dengan Thailand untuk memanfaatkan dry ice dalam mendukung penanganan karhutla. Pengujian menggunakan radiosonde juga dilakukan guna mengidentifikasi titik yang tepat untuk penyemaian awan.

Terkait prakiraan cuaca, Faisal menyebut curah hujan di Indonesia secara umum diprediksi berada dalam kategori normal, meskipun periode musim hujan diperkirakan lebih singkat.

"Sehingga nanti terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan, sehingga bencana meteorologi basah yaitu banjir, longsor itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang," ujar Teuku Faisal Fathani.

Ia mengingatkan, potensi hujan dengan intensitas tinggi menjelang akhir 2026 hingga awal 2027 perlu diantisipasi sejak dini. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

Sebelumnya, BMKG memperkirakan fenomena El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat masih akan berlangsung di Indonesia sampai awal 2027. Fenomena ini berpotensi memperbesar risiko kekeringan, krisis air, serta kebakaran hutan dan lahan.

BMKG juga memprakirakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami keterlambatan. Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

x|close