BMKG: OMC Karhutla Dilakukan Situasional karena Awan Konvektif Minim

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Sep 2026, 06:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan seusai rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan seusai rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini dilakukan secara situasional. Kondisi itu disebabkan rendahnya potensi pembentukan awan konvektif pada puncak musim kemarau.

"Karena sekarang untuk operasi modifikasi cuaca ini cukup sulit karena potensi awan konvektif itu sangat rendah pada puncak musim kemarau ini sehingga operasi modifikasi cuaca ini sangat situasional," kata Faisal di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

Faisal menjelaskan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memungkinkan untuk dimodifikasi. Karena itu, pesawat yang telah disiapkan dalam penanganan karhutla tidak secara khusus digunakan untuk OMC, tetapi juga menjalankan fungsi patroli.

BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan telah menyiapkan armada pesawat di enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla. Keenam wilayah tersebut yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Pesawat-pesawat tersebut akan digunakan untuk memantau wilayah melalui patroli udara, terutama kawasan yang memiliki potensi mengalami karhutla.

Apabila dalam kegiatan patroli ditemukan awan yang berpotensi dimanfaatkan untuk OMC, pesawat akan segera dialihkan untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca.

"Semua pesawat di setiap provinsi sudah kita siapkan bersama dengan BNPB dan Kementerian Kehutanan di enam provinsi prioritas sudah kita siapkan pesawatnya digunakan sebagai mode patroli, tapi kemudian apabila ada potensi awan itu segera berubah menjadi modifikasi cuaca," ujarnya.

Baca Juga: BMKG Ungkap Wilayah yang Berpotensi Hujan pada Rabu

Faisal mengatakan strategi penanganan karhutla juga dilakukan melalui dua unsur, yakni satuan tugas udara dan penguatan satuan tugas darat.

Satuan tugas udara mencakup pelaksanaan OMC serta operasi water bombing untuk membantu pemadaman kebakaran dari udara. Sementara itu, satuan tugas darat diperkuat agar dapat melakukan penanganan dan pemadaman secara langsung di titik kebakaran.

Menurut Faisal, pelaksanaan strategi tersebut disesuaikan dengan situasi di lapangan. OMC tidak dapat berjalan maksimal apabila awan konvektif yang memenuhi syarat untuk dimodifikasi tidak tersedia.

Di sisi lain, BMKG terus mengamati perkembangan musim hujan yang diharapkan dapat mengakhiri periode kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.

Faisal menyebut pengaruh El Nino yang saat ini berada pada fase kuat turut memengaruhi datangnya musim hujan 2026-2027. Kondisi tersebut membuat awal musim hujan di Indonesia diperkirakan mengalami sedikit keterlambatan.

"Beberapa nanti masuk di Oktober, terutama di daerah-daerah yang prioritas karhutla seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, kemudian Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan," ucap dia.

"Tapi sebagian lagi ini masuknya di bulan November dan Desember, dan puncaknya nanti musim hujan di Desember, Januari, Februari," pungkasnya.

x|close