Ntvnews.id, Jakarta - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan menggunakan istana yang dilengkapi bunker untuk meningkatkan perlindungan diri di tengah serangan kelompok Houthi dari Yaman ke Riyadh. MBS terakhir kali terlihat di hadapan publik pada 6 Oktober 2026, saat mengikuti kegiatan donor darah.
Di tengah meningkatnya eskalasi ancaman, pemerintah Arab Saudi disebut menghadapi tantangan untuk melindungi seluruh wilayah negara yang luas dengan sistem pertahanan udara yang tersedia. Sejumlah baterai pertahanan udara pun dilaporkan dialihkan untuk menjaga istana dan infrastruktur energi.
Arab Saudi juga disebut meminta bantuan Pakistan, yang merupakan sekutu militernya, serta berupaya memperoleh sistem pertahanan udara dari berbagai negara. Pada saat yang sama, Riyadh dikabarkan semakin mempertimbangkan penyelesaian konflik dengan kelompok Houthi melalui jalur diplomatik.
Baca Juga: Israel Perintahkan Pesawat Ethiopian Airlines Putar Balik Gara-gara Pilotnya WNI
Serangan terhadap Arab Saudi meningkat setelah bentrokan antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh kembali terjadi pada pertengahan Juli, setelah jeda selama empat tahun. Sejak itu, kelompok tersebut dilaporkan menyasar sejumlah fasilitas minyak dan infrastruktur strategis Arab Saudi.
Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh juga menjadi sasaran serangan secara berulang. Serangan pada 10 Oktober menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Sehari kemudian, serangan berikutnya menewaskan satu orang dan melukai 11 orang.
Dua terminal penumpang bandara turut terdampak serangan hingga memicu kebakaran. Serangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa ibu kota dan infrastruktur penting Arab Saudi kini menghadapi ancaman keamanan yang kian meningkat.
Baca Juga: PBB Desak Penyelidikan Serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh
(Sumber: ANTARA)
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (ANTARA)