Ntvnews.id, Jakarta - Fenomena jeratan pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) di kalangan mahasiswa ternyata berakar dari rendahnya pemahaman dasar terkait keuangan. Hasil riset terbaru yang dilakukan oleh Dosen dan Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Ana Amaliah Agus, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai tingkat literasi keuangan mahasiswa di Indonesia.
"Penelitian ini berangkat dari maraknya kasus judol dan pinjol sekitar 2,5 tahun lalu yang tidak hanya menjerat individu, tetapi juga organisasi kemahasiswaan. Kala itu, sejumlah organisasi nekat memanfaatkan dana dari aplikasi pinjol sebagai dana talangan untuk menggelar acara kampus sebelum dana dari pihak sponsor cair," ujar Ana saat hadir menjadi pembicara dalam gelar wicara (talkshow) Nusantara TV Goes to Campus bertajuk “Money Talk, No Stress” di Balai Purnomo Prawiro, Kampus UI Depok, Selasa, 22 September 2026.
Ana memetakan kondisi tersebut, survei berskala nasional digelar dengan melibatkan 7.500 mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta yang tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan.
"Lebih dari setengah sampel kita tidak paham (literasi keuangan), dan mereka juga cenderung cuek. Contohnya enggak mau bayar pinjol. Jadi tidak heran pas kita cross check ke lembaga keuangan bilang salah satu dari e-commerce menyebut beli kebutuhan sehari-hari dan gak mau bayar," kata Ana.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terungkap dua temuan utama yang menggambarkan tingginya risiko finansial anak muda saat ini. Dia menjelaskan, sebanyak 50% mahasiswa di UI tidak mampu menjawab dengan benar perhitungan matematika sederhana terkait persentase bunga tabungan selama kurun waktu 5 tahun. Angka kelulusan perhitungan dasar ini bahkan jauh lebih rendah pada kampus-kampus di luar UI.
"Penggunaan fitur pembayaran tunda (paylater) sudah menjadi kebiasaan di kalangan mahasiswa. Namun, hanya 25% mahasiswa yang membayar tagihan tepat sesuai nominal pokok. Akibatnya, denda dan bunga utang terus menumpuk tanpa disadari," kata dia.
Ana mengatakan temuan riset ini menjadi sinyal peringatan bagi dunia pendidikan dan pengambil kebijakan. Lemahnya pemahaman perhitungan bunga dasar yang dipadu dengan kebiasaan konsumtif menggunakan paylater dinilai menjadi pendorong utama rentannya generasi muda terperosok dalam lingkaran utang digital.
Dosen dan Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Ana Amaliah Agus (Youtube Nusantara TV)