Ntvnews.id, Jakarta - Kepolisian Resor (Polres) Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mengimbau masyarakat untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan identitas maupun penyebab kematian dari jasad laki-laki yang ditemukan di kawasan pesisir pantai Desa Rawa Bangun, Kecamatan XIV Koto, pada Kamis pagi.
Imbauan tersebut secara khusus disampaikan menyusul maraknya peredaran informasi yang mengaitkan jenazah di Mukomuko tersebut dengan rombongan jurnalis yang dilaporkan hilang di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK). Spekulasi ini semakin menguat di tengah masyarakat lantaran sebelumnya terdapat satu jenazah di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, yang telah dikonfirmasi resmi sebagai bagian dari korban hilang insiden GAK.
Merespons hal itu, Kapolres Mukomuko AKBP Riky Crisma Wardana menegaskan bahwa pihaknya belum bisa memberikan kesimpulan akhir.
“Kami juga masih melakukan pendalaman untuk memastikan identitas korban serta mengetahui secara jelas kronologi dan penyebab kematiannya,” kata Kapolres Mukomuko AKBP Riky Crisma Wardana di Mukomuko, Kamis.
Riky meminta masyarakat agar tidak mudah mempercayai serta menyebarluaskan informasi, foto, maupun video yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Hal ini sangat ditekankan, terutama pada informasi liar yang berkaitan dengan identitas korban, kronologi kejadian, maupun penyebab insiden.
“Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi kemudian disebarkan kembali dan menimbulkan keresahan atau kesalahpahaman,” kata dia.
Terkait kronologi penanganan, Polres Mukomuko awalnya menerima laporan masyarakat mengenai penemuan jasad laki-laki di kawasan pesisir pantai Desa Rawa Bangun pada Kamis pagi. Jajaran Polsek Kota Mukomuko bersama tim Inafis Satuan Reserse Kriminal Polres Mukomuko kemudian langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengamanan tempat kejadian perkara (TKP).
Dalam penanganan di lapangan, kepolisian berkoordinasi erat dengan tim gabungan SAR dan unsur masyarakat setempat. Sinergi ini dilakukan untuk memastikan proses evakuasi jenazah dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan sesuai standar prosedur yang ditetapkan.
Baca Juga: Badan Geologi Deteksi Munculnya 2 Pulau Baru di Perairan Sekitar Anak Krakatau
Selain proses evakuasi fisik, personel kepolisian juga melakukan pendataan terhadap saksi-saksi mata, mengamankan lokasi penemuan secara ketat, serta berkoordinasi dengan pihak medis sebelum jasad akhirnya dibawa menuju RSUD Mukomuko.
Saat ini, jenazah tanpa identitas tersebut telah ditempatkan di ruang IGD/Triase RSUD Mukomuko untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dan proses visum medis.
Langkah pemeriksaan medis dan visum ini wajib dilakukan untuk memperoleh keterangan rinci mengenai kondisi korban, sekaligus membantu proses identifikasi dan pendalaman penyebab kematian. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan menjadi pijakan penting dalam proses penyelidikan lanjutan oleh kepolisian.
Kapolres memastikan bahwa jajarannya akan terus mengawal seluruh rangkaian penanganan kejadian tersebut bersama unsur-unsur terkait, mulai dari tahap pengamanan TKP, evakuasi, hingga pemeriksaan forensik di RSUD Mukomuko.
Ia juga meminta warga masyarakat untuk memberikan ruang kerja bagi petugas serta menghargai privasi apabila nantinya pihak keluarga telah diketahui, dengan tidak mengganggu jalannya proses medis maupun penyelidikan.
Apabila terdapat masyarakat yang memiliki informasi valid terkait kejadian tersebut, kepolisian mempersilakan mereka untuk menyampaikannya secara langsung agar dapat diverifikasi dan ditindaklanjuti sesuai hukum yang berlaku.
"Hingga saat ini, Polres Mukomuko terus mengawal proses identifikasi, pemeriksaan medis dan penyelidikan guna memperoleh fakta yang akurat mengenai kejadian tersebut," pungkas Riky.
(Sumber: ANTARA)
Baca Juga: Keluarga Firdaus Wajidi Ikhlaskan Kepergian Jurnalis yang Hilang di Krakatau
Speed boat SAR gabungan dari Basarnas dan TNI AL mendarat di Pantai Marina Carita, Banten, pada Kamis (10/9/2026) pukul 14.01 WIB setelah mencari delapan orang, termasuk lima jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau dan dilaporka (Antara)