DARI MEJA REDAKSI: Jurnalis NTV Ingatkan Kepolisian Agar Tak Salah Tetapkan Tersangka Pasca-Kerusuhan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 14:43
thumbnail-author
Ramses Manurung
Penulis & Editor
Bagikan
Program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV Program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV

Ntvnews.id, Jakarta - Proses hukum pasca-kerusuhan demonstrasi RUU Perampasan Aset pada Kamis, 27 Agustus 2026 lalu, kini tengah menjadi fokus perhatian publik. Di tengah derasnya tuntutan masyarakat agar pelaku kekerasan segera diseret ke meja hijau, jurnalis Nusantara TV mengingatkan aparat penegak hukum untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Polisi diimbau menjaga ketelitian penuh agar tidak ada warga tidak bersalah yang menjadi korban salah tangkap atau salah penetapan status hukum.

Isu krusial mengenai penegakan hukum ini dibahas secara mendalam dalam program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV, Senin (7/9). Hadir sebagai narasumber, Manager News Gathering NTV, Ruby Matondang, Analis Kriminologi Nastiti Lestari untuk membedah perkembangan penyelidikan aparat.

Dalam dialog tersebut, Ruby Matondang menekankan bahwa menersangkakan seseorang dalam kondisi konflik massa bukanlah perkara mudah bagi kepolisian. Ia mengingatkan aparat untuk bersandar penuh pada kecukupan bukti di lapangan.

"Itu memang tantangan bagi aparat kepolisian untuk menersangkakan seseorang, perlu alat bukti yang cukup," ujar Ruby.

Ruby juga menggarisbawahi bahwa kepolisian wajib memegang teguh hak-hak konstitusional terduga pelaku sebelum status hukumnya ditingkatkan. Bagi redaksi NTV, objektivitas penegakan hukum harus diutamakan di atas desakan emosi massa.

"Asas praduga tak bersalah harus ditunjukkan, harus cukup gitu loh," lanjut Ruby.

Baca juga: Saksikan Program Baru "Dari Meja Redaksi", Tayang Perdana 4 Mei 2026 di Nusantara TV

Ruby pun memberikan sebuah analogi klasik di mana kesaksian mata yang terburu-buru di lokasi kejadian (TKP) rawan memicu kesalahan fatal. Menurutnya, kesaksian superfisial sering kali menjebak orang yang sebenarnya berniat baik menolong korban di tengah kekacauan.
Ruby kemudian memberikan contoh konkret mengenai kerentanan salah tafsir tersebut.

"Kan ada sering contoh tuh misalnya orang melihat orang ketusuk padahal dia mau nolong, dicabut, orang melihat 'udah pelakunya tuh, itu pelakunya, alat buktinya ada, orang yang melihat ada,' jadi tersangka padahal nih orang mau nolong," jelasnya secara rinci

Melihat besarnya potensi kekeliruan dalam situasi chaos, Ruby mengimbau penyidik Polda Metro Jaya untuk melakukan penelusuran fakta secara mendalam dan menyeluruh. Ia mewanti-wanti agar tidak ada proses hukum yang dipaksakan hanya untuk memenuhi kepuasan publik sesaat.

"Nah ini kan perlu penyidikan penyelidikan yang lebih mendalam, jangan sampai salah menangkakan orang itu gitu loh," tuturnya

Lebih jauh, Ruby memandang bahwa penanganan kasus kerusuhan yang menewaskan satu warga sipil dan melukai seorang pelajar SMA ini akan menjadi ukuran kredibilitas kepolisian di mata publik. Polisi dituntut membuktikan profesionalismenya di tengah sorotan tajam masyarakat luas.
"Pasca-kerusuhan ini ujian kredibilitas kepolisian," kata Ruby.

Sebagai bagian dari pilar pers nasional, Ruby memastikan bahwa Nusantara TV berkomitmen penuh untuk mengawal kasus ini agar berjalan transparan hingga tuntas demi keadilan para korban.

"Makanya kita sebagai jurnalis kita kawal, kita kawal kerja baik kerja bagus," tegasnya.

x|close