Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Argentina, Javier Milei, mengeluarkan peringatan tegas kepada Pemerintah Inggris terkait sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland. Milei menegaskan bahwa pemerintahannya siap membela kepentingan nasional Argentina secara maksimal tanpa peduli pihak mana yang merasa terganggu.
Melalui serangkaian unggahan di platform media sosial X pada Rabu, 2 September 2026, Milei mengumumkan rencana pidato nasional yang bakal disiarkan pada Kamis pukul 21.00 waktu setempat. Dalam pidato tersebut, ia berniat mengulas isu yang disebutnya sebagai "topik sakral" bagi rakyat Argentina.
“Perkara apa yang bisa lebih penting dan strategis bagi kepentingan vital bangsa selain perjuangan untuk Malvinas?” tulis Milei, merujuk pada nama yang digunakan Argentina untuk Kepulauan Falkland.
Milei menilai kedaulatan nasional negaranya masih terus dilanggar hingga saat ini. “Kami akan terus membela kepentingan bangsa Argentina habis-habisan, tidak peduli siapa yang merasa terganggu. HIDUP KEBEBASAN!” tegasnya.
Pernyataan keras Milei mengemuka di tengah memanasnya peta politik internasional terkait wilayah sengketa tersebut. Sebelumnya pada Selasa (1/9), Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street mengutarakan bahwa komitmen London terhadap Kepulauan Falkland tidak pernah tergoyahkan. Sikap tersebut dirilis guna merespons sinyal dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengindikasikan peluang Washington untuk meninjau ulang posisinya atas kepulauan itu.
Penolakan senada dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Bayangan Inggris, James Cartlidge. Ia menegaskan bahwa kedaulatan Kepulauan Falkland berada di tangan Inggris dan tidak akan berubah.
“Prajurit Inggris berjuang dan gugur untuk mempertahankan kedaulatan kami serta kebebasan warga Kepulauan Falkland,” ujar Cartlidge. Ia menambahkan bahwa pengorbanan para prajurit akan selalu dikenang dan pihak Inggris bakal terus mendukung aspirasi warga lokal yang memilih tetap bernaung di bawah kedaulatan Inggris.
Sengketa bersejarah yang pernah memicu perang 10 pekan pada 1982 tersebut belakangan ini turut merembet ke panggung olahraga. Isu kedaulatan memanas kembali setelah tim nasional sepak bola Argentina menundukkan Inggris dengan skor 2-1 pada laga semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, Amerika Serikat.
Usai laga berakhir, sejumlah penggawa timnas Argentina membentangkan spanduk dari suporter yang memuat tulisan “Las Malvinas son Argentinas” (Malvinas adalah milik Argentina).
Aksi selebrasi tersebut memicu protes keras dari pejabat Inggris yang menuntut adanya tindakan tegas. Merespons insiden itu, induk organisasi sepak bola dunia, FIFA, resmi membuka proses disipliner terhadap Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) atas dugaan pelanggaran kode disiplin mengenai larangan penayangan pesan atau aksi bernuansa politik dalam ajang olahraga.
Arsip - Salah satu lokasi militer Inggris di Kepulauan Falkland. (Antara)