Ntvnews.id, Buenos Aires - Utang menjadi persoalan yang semakin banyak dihadapi masyarakat Argentina setelah pemerintah Presiden Javier Milei menerapkan kebijakan efisiensi ketat untuk menekan laju inflasi.
Dilansir dari AFP, Rabu, 19 Agustus 2026, sejumlah warga Argentina mengaku kesulitan keluar dari jeratan tagihan berbunga. Kondisi ekonomi yang semakin berat membuat mereka harus berutang untuk memenuhi kebutuhan maupun mempertahankan penghasilan.
Andrea, salah satu warga Argentina, menjadi contoh masyarakat yang terpaksa mengambil pinjaman. Utang yang diperolehnya tahun lalu hingga kini belum mampu dilunasi.
"Saya menunggak bayar tagihan, dan dalam beberapa bulan utang itu membengkak hingga terlalu besar untuk dilunasi. Jumlahnya melonjak dari satu juta peso menjadi lima juta," ujar perempuan berusia 32 tahun tersebut.
Andrea sebelumnya meminjam uang untuk memulai kehidupan baru melalui usaha katering. Ia mengambil langkah itu setelah toko alat tulis tempatnya bekerja ditutup. Namun, pembelian oven baru untuk menunjang bisnis justru membuat kondisi keuangannya semakin terpuruk.
Masalah serupa juga dialami jutaan warga lainnya. Berdasarkan data Bank Sentral Argentina, sekitar 21 juta dari total 46 juta penduduk negara tersebut memiliki utang dalam berbagai bentuk. Dari jumlah itu, sekitar 5,8 juta orang tercatat menunggak pembayaran lebih dari 90 hari.
Jumlah tunggakan utang masyarakat Argentina bahkan meningkat tiga kali lipat dalam setahun. Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama dua dekade pemerintahan Milei.
Milei yang dikenal sebagai pendukung kebijakan pasar bebas menerapkan program efisiensi besar-besaran untuk mengendalikan inflasi. Kebijakan tersebut memang berhasil menekan inflasi, tetapi pada saat yang sama membuat sebagian masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ekonomi keluarga juga berada dalam tekanan akibat pendapatan yang tidak banyak berubah, sementara biaya hidup meningkat. Situasi itu diperparah dengan pemangkasan subsidi transportasi, gas, obat-obatan, serta sejumlah kebutuhan pokok oleh pemerintah Milei.
Baca Juga: Lamine Yamal Ungkap Pesan Messi Usai Spanyol Taklukkan Argentina di Final Piala Dunia 2026
Ketika ditanya mengenai persoalan tersebut, Milei justru memberikan respons yang terkesan menyalahkan masyarakat.
"Apakah ada yang menodongkan senjata ke kepala mereka untuk memaksa mereka berutang?" tanyanya dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Presiden Banco Provincia di Buenos Aires, Juan Cuattromo, membantah pandangan bahwa masyarakat Argentina sepenuhnya bertanggung jawab atas persoalan utang yang mereka alami.
Menurutnya, lonjakan tunggakan bukan semata-mata akibat keputusan masing-masing individu. Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan "konteks makroekonomi yang memperburuk pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi."
Laporan Center for Argentine Political Economy menunjukkan bahwa pinjaman pribadi dan penggunaan kartu kredit menyumbang lebih dari 70 persen dari keseluruhan pinjaman yang mengalami tunggakan.
"Saya tidur dan bangun dengan memikirkan bagaimana cara melunasinya," kata Claudia Debaste ketika menceritakan beban tagihan kartu kredit yang harus ditanggungnya.
Debaste merupakan ibu tunggal berusia 40 tahun yang bekerja di sebuah kantor dengan penghasilan rendah. Ia harus membayar berbagai kebutuhan, mulai dari utilitas, transportasi, bahan pokok hingga obat-obatan.
Ia telah menunggak pembayaran selama empat bulan dan kini berusaha melakukan restrukturisasi agar dapat membayar utang secara bertahap.
Masa pembayaran yang semakin panjang, nilai tagihan yang terus membesar, serta pendapatan yang stagnan akhirnya menciptakan tekanan finansial serius bagi banyak keluarga Argentina.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga semakin mudah memperoleh pinjaman melalui layanan dompet digital seperti Mercado Pago, platform pembayaran digital yang dimiliki raksasa e-commerce Mercado Libre.
Kemudahan akses kredit bahkan menyasar kalangan remaja berusia 13 tahun. Perusahaan fintech menawarkan fasilitas tersebut dengan iming-iming bahwa pengguna tidak harus berstatus dewasa untuk memperoleh "uang tunai instan."
Namun, kemudahan mendapatkan pinjaman tersebut diikuti persoalan tingginya suku bunga. Bunga yang meningkat dengan cepat berpotensi membuat peminjam semakin sulit melunasi kewajiban dan akhirnya terjebak dalam lingkaran utang.
Gabriel Solano, pemimpin Partai Pekerja (Workers' Party), kemudian mengajukan gugatan pidana terhadap CEO Mercado Libre Marcos Galperin. Ia menuduh perusahaan tersebut menjalankan praktik yang menyerupai rentenir.
"Total biaya keuangan efektif (dari pinjaman Mercado Pago) mencapai 1.375 persen," tulis Solano melalui platform X.
Presiden Argentina, Javier Milei (Reuters)