Inovasi Memadukan Teknologi dan Pengendalian Risiko

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Sep 2026, 06:49
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi ponsel (Freepik) Ilustrasi ponsel (Freepik) (Freepik )

Ntvnews.id, Jakarta - PT Saptaindra Sejati (SIS) menegaskan konsistensinya dalam membangun budaya Quality, Health, Safety and Environment (QHSE) dengan meraih empat penghargaan dalam ajang Indonesia QHSE for Business Sustainability Awards 2026 (IQSA Awards 2026) yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat 28 Agustus 2026.

Dalam ajang tersebut,SIS meraih empat penghargaan yaitu The Best QHSE Digital Innovation for Mining Contractor 2026 dan The Best QHSE Commitment to Mining Safety 2026. Apresiasi juga diberikan kepada Presiden Direktur PT Saptaindra Sejati, Asep Kusmana yang meraih The Best CEO in QHSE Excellent 2026, serta kepada Direktur Operasi & IT SIS Eri Basuki sebagai The Best QHSE Leadership & Integrated Mining Industry 2026.

Empat penghargaan tersebut mencerminkan upaya penerapan QHSE di SIS tidak berhenti pada kebijakan perusahaan. Perusahaan jasa pertambangan di bawah Alamtri Group ini, terus mengembangkan QHSE sebagai budaya yang melekat dalam proses kerja, mulai dari tingkat kepemimpinan hingga aktivitas operasional di lapangan.

Bagi Asep Kusmana, IQSA Awards 2026 bukan hanya menjadi ajang penghargaan atas kinerja perusahaan dalam bidang QHSE. Forum tersebut juga memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk melihat praktik terbaik dari berbagai sektor industri.

Menurutnya, pengalaman tersebut penting karena tantangan keselamatan dan keberlanjutan dapat dipelajari dari berbagai perspektif, tidak hanya dari perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan.

“Kegiatan ini menurut saya baik karena kita bisa mendapatkan benchmark dari perusahaan lain. Selama ini mungkin benchmark kita adalah di lingkungan pertambangan, namun hari ini kita mendapatkan benchmark dari bidang bisnis yang lain seperti migas, transportasi, dan konstruksi,” ujar Asep.

Memanfaatkan Drone dan AI untuk Keselamatan

Salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam penerapan QHSE di SIS adalah pemanfaatan teknologi. Dengan wilayah operasi pertambangan yang luas, pengawasan keselamatan tidak dapat hanya mengandalkan pemantauan secara manual.

SIS menggunakan drone untuk memantau kondisi area kerja, pergerakan alat, dan kepatuhan terhadap standar keselamatan. Teknologi tersebut membantu perusahaan mengidentifikasi potensi penyimpangan di area operasi yang sulit dijangkau melalui pemantauan langsung.

“Beberapa teknologi pengawasan kita gunakan untuk bisa mengawasi keselamatan semua karyawan. Misalnya menggunakan drone untuk melihat potensi-potensi yang terjadi di lapangan karena operasi kita sangat luas. Tidak mungkin seluruhnya diawasi oleh manusia,” jelas Asep.

SIS juga memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu mengidentifikasi potensi risiko yang berada di sekitar pekerja maupun aset perusahaan. Menurut Asep, informasi dari sistem tersebut dapat diperoleh secara real time sehingga perusahaan memiliki kesempatan untuk merespons potensi bahaya secara lebih cepat.

Membangun Budaya Keselamatan

Teknologi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan QHSE. Bagi SIS, tantangan yang tidak kalah penting adalah membangun budaya keselamatan yang konsisten di tengah dinamika sumber daya manusia.

Dinamika tenaga kerja menjadi salah satu tantangan dalam menjaga konsistensi budaya keselamatan. Perbedaan pengalaman dan tingkat pemahaman pekerja membuat pembelajaran QHSE harus berlangsung secara berkelanjutan.

“Tantangannya pasti ada. Yang pertama adalah bagaimana kita membangun budaya karena setiap saat ada karyawan yang masuk dan ada yang keluar. Kemudian tingkat pemahamannya tentang keselamatan kerja juga berbeda-beda,” kata Asep.

Untuk menjawab tantangan tersebut, SIS memperkuat pelatihan dan komunikasi keselamatan secara terstruktur dan konsisten di berbagai tingkat organisasi. Program tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman terhadap prosedur, tetapi juga menempatkan keselamatan sebagai bagian dari perilaku kerja sehari-hari.

Kehadiran pemimpin di lapangan juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Interaksi langsung antara pimpinan dan pekerja dinilai dapat menciptakan engagement sekaligus menunjukkan bahwa keselamatan benar-benar menjadi perhatian perusahaan.

Karena itu, Asep menempatkan prinsip lead by example sebagai salah satu kunci dalam mendorong penerapan QHSE. Pemimpin harus hadir dan melihat langsung bagaimana pekerjaan dilakukan di lapangan. Kunjungan tersebut bukan sekadar aktivitas pengawasan, tetapi juga kesempatan untuk memahami persoalan yang dihadapi pekerja.

“Prinsipnya adalah lead by example. Kita harus memberi contoh, hadir di lapangan, melihat bagaimana pekerjaan dilakukan, dan memberikan perhatian kepada para pekerja,” tutur Asep.

Bagi SIS, penghargaan IQSA 2026 menjadi pengakuan atas upaya perusahaan memadukan inovasi teknologi, pengendalian risiko, dan kepemimpinan dalam pengelolaan QHSE. Pencapaian tersebut sekaligus menjadi momentum untuk terus meningkatkan standar keselamatan di tengah kompleksitas kegiatan pertambangan

Karena itu, pencapaian ini bukan menjadi garis akhir, melainkan momentum untuk meningkatkan standar, memperkuat pengendalian risiko, memperkuat inovasi, kemajuan teknologi dan memastikan setiap aktivitas operasi memberikan perlindungan terbaik bagi manusia, aset, lingkungan serta keberlangsungan perusahaan.

Baca Juga: Dorong Eksekusi Proyek Strategis dan Percepatan Investasi Energi

HIGHLIGHT

x|close