Poltracking: 49 Persen Warga Tak Puas dengan Program MBG, Minta BGN Perbaiki

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Agu 2026, 12:12
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Founder Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR Founder Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR (YouTube )

Ntvnews.id, Jakarta - Lembaga survei Poltracking Indonesia merilis temuan terbaru terkait tren kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya pada program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kinerja Badan Gizi Nasional (BGN). Hasilnya, program tersebut mencatatkan rapor merah dengan tren kepuasan yang terus merosot.

Founder Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR, mengungkapkan bahwa meskipun tingkat popularitas atau kedikenalan program MBG sangat tinggi mencapai 93,9%, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan kepuasan masyarakat dalam implementasinya.

"Ini kabar kurang baiknya. Saya kira ini catatan kritis buat pemerintah untuk memperbaiki performanya ke depan. Yang menilai sangat tidak puas dan kurang puas sekarang sudah lebih tinggi, yaitu 49,2%, sementara yang puas hanya 46,4%," ujar Hanta Yuda saat memaparkan hasil survei, 31 Agustus 2026.

Hanta menegaskan bahwa selisih angka tersebut menunjukkan persepsi publik yang mulai bergeser ke arah negatif. Ia menyebut kondisi ini sebagai peringatan serius bagi pemerintah terkait aspek penyelenggaraan dan eksekusi di lapangan.

Penurunan kepuasan ini berdampak signifikan pada keinginan publik terhadap keberlanjutan program MBG. Untuk pertama kalinya, jumlah responden yang menginginkan program ini dihentikan melampaui jumlah mereka yang ingin program dilanjutkan.

Data Poltracking menunjukkan pada Mei 2026, dukungan untuk melanjutkan program masih berada di angka 51,9%. Namun, angka tersebut terus merosot menjadi 46,8% pada Juli, dan jatuh ke titik 42,1% pada Agustus 2026.

Sebaliknya, kelompok yang merekomendasikan agar program tidak dilanjutkan meningkat tajam dari 35% menjadi 44,6% pada periode yang sama.

"Sekarang sudah cross (bersilangan). Publik yang menginginkan tidak perlu dilanjutkan lebih besar sedikit, meskipun masih dalam rentang margin of error. Ini sinyal yang sangat penting bagi pemerintah," tambah Hanta.

Berdasarkan pendalaman survei, terdapat tiga alasan utama mengapa publik mulai menolak keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis. Sebanyak 19,6% responden menyoroti kurangnya kualitas rasa dan kandungan gizi makanan.

Selain itu, ketidakcocokan lauk-pauk yang disuguhkan serta munculnya kasus-kasus keracunan makanan di beberapa daerah menjadi faktor utama yang meruntuhkan kepercayaan publik terhadap program ini.

Selaras dengan program MBG, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai eksekutor juga mengalami tren penurunan. Sepuluh bulan lalu, pada Oktober 2025, tingkat kepuasan terhadap BGN sempat menyentuh angka 57%.

Namun, memasuki tahun 2026, angka tersebut terus melandai: 50% pada Maret, sempat stagnan di 54,6% pada Mei, sebelum akhirnya anjlok ke angka 41% pada Juli dan Agustus 2026. Saat ini, tingkat kepuasan relatif rendah di angka 42,1%.

Hanta Yuda menyimpulkan bahwa pemerintah perlu segera melakukan evaluasi total terhadap implementasi program di lapangan jika tidak ingin kehilangan legitimasi publik terhadap program prioritas tersebut. 

"Rapor merah ini adalah peringatan penting untuk memperbaiki sisi penyelenggaraan, implementasi, dan eksekusi agar persepsi publik tidak terus bergerak ke arah negatif," pungkasnya.

HIGHLIGHT

x|close