Polisi Usut Aliran Dana Pembelian Molotov dan Sajam Jelang Demo di DPR

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Agu 2026, 15:53
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin (dua dari kiri) memberikan keterangan dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin (dua dari kiri) memberikan keterangan dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Polda Metro Jaya tengah mendalami aliran dana yang disinyalir dimanfaatkan untuk membeli material pembuat bom molotov hingga senjata tajam menjelang aksi unjuk rasa di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Iman Imanuddin mengonfirmasi bahwa penelusuran keuangan tersebut dilakukan secara komprehensif melalui bukti digital dan mutasi perbankan.

"Penyidik masih melakukan pemeriksaan serta penelusuran terhadap keterangan para pihak melalui komunikasi transaksi keuangan dan bukti lainnya," kata Iman dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta.

Iman memaparkan bahwa pendanaan pergerakan tersebut terindikasi berasal dari gabungan kas pribadi hingga skema penggalangan dana publik.

"Untuk sumber uang yang digunakan untuk membeli bahan-bahan yang diduga akan digunakan dalam pembuatan bom molotov dan pengadaan senjata tajam, berasal dari uang pribadi, uang yang diberikan oleh pihak lain maupun dana yang diperoleh melalui mekanisme open donasi," jelas Iman.

Meski begitu, pihak kepolisian belum merinci nominal pasti transaksi belanja material berbahaya tersebut karena proses pelacakan rekening masih berjalan.

"Ini sedang kita mintakan transaksi perbankannya, masih berproses," ucap Iman.

Langkah pendalaman transaksi keuangan ini menyusul pemeriksaan marathon terhadap 63 orang yang sebelumnya diamankan. Dari deretan terperiksa, polisi memetakan 10 orang masuk dalam struktur klaster pembiayaan dan 53 orang lainnya pada klaster pelaksana di lapangan.

"10 orang terduga sebagai perekrut dan penyedia dana di dalam mempersiapkan aksi. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mendalami sumber pembiayaan, pola perekrutan, komunikasi antarpihak serta tujuan dan peran masing-masing," ujar Iman.

Iman menambahkan, penyidik mengendus adanya pola mobilisasi berjenjang yang memanfaatkan platform media sosial serta grup aplikasi pesan singkat untuk penggalangan massa hingga penyediaan logistik aksi.

"Kita masih melakukan pendalaman untuk memastikan siapa saja yang memiliki peran dalam proses perekrutan, pembiayaan, penyediaan sarana, pengorganisasian massa serta pihak yang memberikan perintah atau arahan," tutur Iman.

Pengusutan aliran dana ini beriringan dengan penyitaan deretan barang bukti berisiko tinggi oleh Polda Metro Jaya. Petugas menyita 39 senjata tajam, 201 botol kaca bersumbu, tujuh jeriken bensin, dua pucuk airsoft gun, satu tabung gas pengisi, 25 gram gotri, tiga stik golf, satu unit toa, satu kaleng cat semprot, 11 tas ransel, empat spanduk, serta obat-obatan terlarang berupa empat strip Tramadol dan dua strip Diazepam.

(Sumber: Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close