Warga Berebut Beli AC Gegara Panas 'Bak Neraka'

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Jul 2026, 09:26
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip - Foto tidak bertanggal ini menunjukan pasangan pengantin berada di kawasan Menara Eiffel di Paris, Prancis. (ANTARA/Xinhua/aa.) Arsip - Foto tidak bertanggal ini menunjukan pasangan pengantin berada di kawasan Menara Eiffel di Paris, Prancis. (ANTARA/Xinhua/aa.) (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Ratusan warga memadati sejumlah supermarket di Paris, Prancis untuk mendapatkan pendingin udara (air conditioner/AC) dengan harga diskon di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa.

Dilansir dari AFP, Jumat, 3 Juli 2026, Kelangkaan AC dengan harga terjangkau di pasaran membuat banyak warga berbondong-bondong menuju gerai supermarket Lidl yang menawarkan AC dengan harga promosi mulai dari 179 euro atau sekitar Rp3,7 juta. Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan produk serupa di tempat lain yang dapat mencapai lebih dari 1.200 euro atau sekitar Rp25 juta.

Seorang warga bernama Mousa Traore mengaku telah mengantre lebih dari satu jam bersama sekitar 200 orang lainnya di salah satu gerai Lidl. Namun, ia kemudian mendapat informasi bahwa hanya tersedia dua unit AC dengan harga diskon tersebut.

"Tapi kemudian polisi datang dan kami diberitahu bahwa tidak ada. Petugas polisi yang mengambilnya, saya rasa," kata Traore, sambil tertawa.

Sementara itu, warga lain bernama Lasana berhasil memperoleh salah satu dari dua unit AC diskon yang tersedia setelah mengantre selama tujuh jam, sejak pukul 04.00 pagi, di kawasan utara Paris.

Berbeda dengan Lasana, seorang nenek berusia 69 tahun bernama Fatou harus pulang dengan tangan hampa. Meski telah menunggu selama enam jam dan berada di urutan ketiga antrean, ia hanya berhasil membeli sebuah kipas angin.

Baca Juga: Ngeri! Ini Penyebab Eropa Kini Bisa Lebih Panas dari Makkah

Kekecewaan juga dirasakan banyak warga lainnya yang mengantre di gerai Lidl di distrik ke-19 Paris. Fatou bersama sejumlah pembeli menuding pihak supermarket melakukan "iklan yang menyesatkan" karena mempromosikan produk yang jumlahnya sangat terbatas di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.

"Saya tidak akan membuka toko kecuali kalian peegi," teriak seorang manajer Lidl.

Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah pinggiran Paris, tepatnya di Livry-Gargan. Seorang warga bernama Lolo mengaku menyerah setelah melihat antrean panjang yang sudah memenuhi area parkir.

"Saya menyerah, ini gila. Saya meninggalkan mobil saya beberapa jalan jauhnya untuk berjalan kaki ke sana, tetapi sudah ada antrean panjang orang di tempat parkir. Ini mustahil," kata Lolo.

Badan meteorologi Prancis memperkirakan gelombang panas akan kembali melanda negara tersebut pada akhir pekan ini. Sebelumnya, Prancis mencatat rekor suhu tertinggi pada akhir Juni, yang menyebabkan korban jiwa, meningkatnya tekanan terhadap layanan kesehatan, serta penutupan sejumlah sekolah.

Warga menyejukkan diri di air mancur umum untuk mengatasi suhu tinggi selama gelombang panas ekstrem di Milan, Italia, pada Kamis, 25 juni 2026. <b>(Antara)</b> Warga menyejukkan diri di air mancur umum untuk mengatasi suhu tinggi selama gelombang panas ekstrem di Milan, Italia, pada Kamis, 25 juni 2026. (Antara)

Sebuah studi menunjukkan bahwa satu dari dua rumah di Prancis belum memiliki fasilitas yang memadai untuk menghadapi suhu ekstrem. Akibatnya, banyak hunian berubah menjadi "kawah termal" saat gelombang panas yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Meski penggunaan pendingin udara selama ini menuai perdebatan di Prancis karena alasan lingkungan, meningkatnya suhu tampaknya mulai mengubah pandangan masyarakat. Survei menunjukkan delapan dari sepuluh warga Prancis masih menganggap AC tidak ramah lingkungan, namun lonjakan suhu ekstrem membuat permintaan terhadap perangkat pendingin udara meningkat tajam hingga stok di sejumlah toko cepat habis.

TERKINI

Load More
x|close