Ahli Gizi: Program MBG Jadi Upaya Cegah Penyakit Tidak Menular Sejak Usia Sekolah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jul 2026, 11:08
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ketua Umum DPP Persagi Dr Doddy Izwardy keterangannya sebagai saksi ahli dari pemerintah dalam sidang uji materiil Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026. Ketua Umum DPP Persagi Dr Doddy Izwardy keterangannya sebagai saksi ahli dari pemerintah dalam sidang uji materiil Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mencegah penyakit tidak menular (PTM) sejak usia sekolah.

Pandangan tersebut disampaikan ahli gizi Dr. Doddy Izwardy saat memberikan keterangan sebagai ahli pemerintah dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Menurut Doddy, Indonesia masih menghadapi persoalan beban ganda malnutrisi pada anak usia sekolah. Kondisi tersebut meliputi tingginya angka stunting dan kasus kelebihan berat badan atau obesitas yang sama-sama berpotensi memicu penyakit tidak menular pada masa mendatang.

“Implikasi kebijakannya dalam hal ini adalah intervensi anak sekolah diposisikan sebagai agenda gizi dan pencegahan PTM. Ini yang menjadi penekanan yang kami sampaikan,” katanya.

Baca JugaSaksi di MK Sebut Program MBG Dorong Kehadiran dan Konsentrasi Belajar Siswa

Doddy yang juga menjabat Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) hadir sebagai ahli pemerintah dalam sidang perkara Nomor 40/PUU-XXIV/2026, Nomor 52/PUU-XXIV/2026, dan Nomor 55/PUU-XXIV/2026. Sidang tersebut menguji ketentuan mengenai penempatan program MBG dalam anggaran pendidikan pada APBN Tahun Anggaran 2026.

Ia menjelaskan anak usia sekolah masih berada pada fase perkembangan fisik, psikologis, dan neurologis yang sangat pesat sehingga membutuhkan asupan energi dan zat gizi yang memadai.

Menurutnya, kekurangan gizi dapat menghambat perkembangan struktur serta fungsi otak yang berdampak pada kemampuan belajar, daya konsentrasi, memori, hingga prestasi akademik anak.

Doddy mengungkapkan, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi stunting pada anak usia 5 hingga 12 tahun mencapai 23,6 persen. Sementara itu, angka kelebihan berat badan dan obesitas di kelompok usia yang sama berada di kisaran 20 persen.

Baca JugaQodari: Evaluasi Program MBG Fokus pada Tata Kelola dan Kualitas Layanan

“Ini potensi menjadi penyakit tidak menular,” ujarnya.

Selain itu, Doddy juga menyoroti masih adanya kesenjangan status gizi antara anak di wilayah perkotaan dan pedesaan. Kasus stunting pada kelompok usia 5 hingga 12 tahun tercatat lebih tinggi di pedesaan, sedangkan kasus kegemukan lebih banyak ditemukan di kawasan perkotaan.

Ia menambahkan, persoalan kesehatan anak sekolah tidak hanya berkaitan dengan status gizi. Rendahnya aktivitas fisik, belum optimalnya perilaku hidup bersih, serta tingginya konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula, garam, dan lemak juga menjadi tantangan yang perlu diatasi.

Menurut Doddy, pelaksanaan program MBG selama 16 bulan telah menunjukkan peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah, sekaligus mendorong terbentuknya pola makan yang lebih sehat.

Ia menilai tantangan kesehatan anak saat ini tidak hanya berkaitan dengan kekurangan gizi, tetapi juga tingginya paparan pangan tidak sehat yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari.

Karena itu, Doddy berpandangan program gizi di sekolah seperti MBG seharusnya tidak hanya dipahami sebagai bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di bidang pengentasan kelaparan, kesehatan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi.

“Program gizi sekolah sebaiknya tidak diposisikan hanya sebagai bantuan makan atau pangan, tetapi sebagai investasi human capital lintas sektor,” kata Doddy.

(Sumber: Antara)
 
 
x|close