Ntvnews.id, Jakarta - Sebuah kapal dilaporkan menjadi target serangan saat melintasi Selat Hormuz pada Kamis, 25 Juni 2026 waktu setempat. Insiden tersebut mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menunda sementara proses evakuasi kapal-kapal yang sebelumnya terjebak di jalur pelayaran strategis akibat konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 28 Juni 2026, laporan awal mengenai insiden itu diterima oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Kapal tersebut dilaporkan terkena hantaman proyektil pada sisi kanan lambung ketika berada sekitar 14 kilometer atau 7,5 mil laut di tenggara Pelabuhan Dahit, Oman.
Sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa kapal tersebut diduga menjadi sasaran serangan drone. Namun demikian, hingga saat ini belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Dalam laporan keamanan maritim, kapal yang diserang diidentifikasi sebagai kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely. Kapal itu diperkirakan berlayar secara mandiri dan tidak termasuk dalam skema evakuasi yang tengah dijalankan Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa jam setelah Iran mengeluarkan instruksi agar kapal-kapal tidak melintasi Selat Hormuz tanpa memperoleh izin dari Teheran.
"Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memerintahkan dua kapal berbendera Panama untuk mengubah haluan pada Kamis pagi," jelas Al Jazeera menurut keterangan perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey.
Baca Juga: KAI Tertibkan Bangunan Liar di Jalur Pasar Senen–Pasar Gaplok Demi Keselamatan Kereta
Pasca-insiden tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang dibentuk Iran untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz menyatakan bahwa kapal-kapal yang melintas di luar jalur resmi tidak akan mendapatkan jaminan keamanan. Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa kapal yang tidak mengikuti rute yang telah ditetapkan berpotensi menghadapi ancaman serangan.
"Konsekuensi yang timbul akibat melewati jalur yang tidak sah menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal," tambah PGSA pada X.
Kapal Kontainer Singapura Diserang di Selat Hormuz (Istimewa)