Kronologi Dugaan Intimidasi Anggota Dewan Sebelum Dokter Icha Meninggal Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Jun 2026, 09:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dokter Icha (27) Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dokter Icha (27) (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan sejawat. Dokter muda yang bertugas di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), itu ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang pada Jumat, 26 Juni 2026.

Sebelum meninggal, dokter Icha diduga mengalami tekanan psikologis setelah mendapat perlakuan yang disebut sebagai intimidasi saat menangani seorang pasien anak korban gigitan ular yang masih memiliki hubungan keluarga dengan salah satu anggota DPRD TTU. Keluarga menyebut sejumlah anggota DPRD sempat mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu dan mempertanyakan tindakan medis yang dilakukan dokter Icha.

Paman almarhumah, Fabi Banase, mengungkapkan tiga anggota DPRD yang dimaksud adalah Veronika Lake dari PDI Perjuangan, Teres Lasaka dari Partai Golkar, dan Nobertu Bani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Fabi juga menuturkan bahwa dua dari tiga anggota dewan tersebut diduga berada dalam pengaruh minuman keras saat mendatangi rumah sakit.

“Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD,” ungkap Fabi, Sabtu, 27 Juni 2026.

Menurut Fabi, kondisi psikologis dokter Icha mengalami penurunan signifikan pasca-insiden tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan yang diterima keluarga, almarhumah didiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan sebelumnya sempat melakukan percobaan bunuh diri.

Baca Juga: Heatstroke Bisa Picu Gangguan Otak, Dokter Beberkan Langkah Darurat Penanganannya

“Pada Rabu (23/6/2026), setelah pulang dari Kefamenanu, hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara menunjukkan almarhum mengalami depresi berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidup,” jelas Fabi.

Keluarga juga menyampaikan bahwa dokter Icha sempat menjalani perawatan di RS Leona Kefamenanu akibat tekanan psikologis yang dialaminya.

Kronologi Dugaan Intimidasi

Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dokter Icha (27) <b>(Istimewa)</b> Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dokter Icha (27) (Istimewa)

Victor Manbait, yang merupakan keluarga dokter Icha, mengatakan bahwa almarhumah telah menjalankan tugasnya sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit serta arahan dokter spesialis anak. Namun situasi memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian jenis vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut.

Victor menjelaskan bahwa dua orang yang mengaku sebagai anggota DPRD kemudian mendatangi ruang perawatan dan melayangkan protes dengan nada tinggi. Bahkan, salah satu di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dokter Icha saat meminta penjelasan.

"Dokter Icha mengaku masih merasa ketakutan dan tertekan secara batin akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” ungkap Victor.

Sementara itu, dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam kasus tersebut, yakni Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah tudingan telah melakukan intimidasi terhadap tenaga medis.

“Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi,” kata Therensius.

Polisi Temukan Sepucuk Surat

Perkembangan terbaru dalam kasus ini muncul setelah Kepolisian Resor Kupang mengungkap adanya sepucuk surat yang ditemukan di lokasi meninggalnya dokter Icha. Surat tersebut telah diamankan dan kini menjadi bagian dari barang bukti yang sedang didalami penyidik.

Kapolres Kupang AKBP Rudi Junus Jacob Ledo melalui Kasi Humas Polres Kupang IPDA Lalu Randi Hidayat mengatakan bahwa pihak kepolisian masih mengumpulkan berbagai fakta dan alat bukti untuk mengungkap secara menyeluruh kronologi maupun penyebab kematian dokter Icha.

"Terkait sepucuk surat yang diamankan pihak kepolisian, saat ini masih dilakukan pendalaman terhadap seluruh bukti-bukti yang ada," ujarnya, Sabtu, 27 Juni 2026.

Kepolisian menegaskan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung dan meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab pasti kematian korban sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan.

"Saat ini Unit Reskrim Polsek Kupang Tengah bersama Polres Kupang masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui secara pasti penyebab dan kronologi kejadian," ungkapnya.

IPDA Lalu Randi menambahkan bahwa tim medis di Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Kupang telah melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah dokter Icha. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan.

Baca Juga: Penyebab Iran Tuding AS Langgar Kesepakatan Damai

"Saat ini pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan tersebut sebagai bagian dari proses penyelidikan," katanya.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses penanganan perkara dilakukan secara profesional, objektif, dan berdasarkan alat bukti yang ditemukan di lapangan. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.

"Perkembangan penyelidikan akan kami sampaikan ke publik setelah seluruh proses berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tandasnya.

Pemerintah Daerah Beri Perhatian Khusus

Kasus meninggalnya dokter Icha juga mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan keprihatinan mendalam dan mengecam apabila benar terjadi intimidasi terhadap tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugasnya.

Melki mengaku telah menerima laporan resmi dari pihak keluarga, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah NTT, serta manajemen RS Leona. Ia pun segera melaporkan persoalan tersebut kepada Kementerian Kesehatan RI dan Komisi IX DPR RI agar penanganannya dilakukan secara terbuka dan menyeluruh.

“Kami menganggap ini kasus serius, bukan hanya soal kematian seorang tenaga medis, tapi juga menyangkut keamanan dan martabat profesi dokter yang bertugas menyelamatkan nyawa. Ia spesialis penanganan gigitan ular, keahlian yang sangat dibutuhkan di wilayah ini,” ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

Sikap serupa disampaikan Bupati Timor Tengah Utara, Yosep Falentinus Kebo. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah hukum yang akan ditempuh keluarga dokter Icha dan mengaku telah berkoordinasi dengan Polres TTU terkait dugaan intimidasi yang melibatkan tiga oknum anggota DPRD.

“Kami sepenuhnya mendukung berbagai upaya yang akan dilakukan oleh keluarga dr. Icha termasuk upaya hukum,” katanya, Sabtu, 27 Juni 2026 malam.

Menurut Yosep, peristiwa tersebut tidak hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga berpotensi merusak citra Kabupaten TTU serta menimbulkan kekhawatiran bagi tenaga kesehatan yang ingin mengabdikan diri di daerah tersebut.

“Saat ini kita sedang membutuhkan banyak tenaga kesehatan untuk bertugas di TTU, namun peristiwa ini akan membuat mereka takut untuk bertugas di TTU lagi, karena khawatir mendapatkan perlakuan yang sama,” tambahnya.

x|close