Ntvnews.id, Tel Aviv - Pemerintah Israel memperingatkan bahwa hubungan negaranya dengan Amerika Serikat berpotensi mengalami ketegangan menyusul kesepakatan yang dicapai Washington dan Iran untuk mengakhiri perang.
Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Miki Zohar menilai perjanjian antara AS dan Iran tidak akan mampu mengatasi kekhawatiran utama Washington maupun Tel Aviv terkait program nuklir Teheran.
Dalam Konferensi Pemerintahan Daerah di Tel Aviv, Zohar melontarkan kritik terhadap pendekatan Amerika Serikat dalam bernegosiasi dengan Iran. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan Washington saat ini dinilai keliru.
"Mereka tidak memahami dengan siapa mereka sedang berhadapan," ujar Zohar, seperti dikutip situs berita Israel, Ynet, Jumat, 26 Juni 2026.
"Amerika Serikat akan berada di jalur tabrakan dengan Israel dalam waktu dekat, dan respons kami terhadap AS tidak akan otomatis (begitu saja)," tambahnya.
Menurut Zohar, perbedaan sikap antara Washington dan Tel Aviv mengenai Iran berpotensi semakin melebar dan menjadi ujian bagi hubungan kedua negara dalam waktu dekat.
"Kepentingan keamanan kami akan menentukan langkah militer yang akan diambil," tutur Zohar lagi seperti dikutip The Middle East Monitor.
Ia juga mengaku pesimistis terhadap efektivitas nota kesepahaman (MoU) yang baru saja ditandatangani Amerika Serikat dan Iran di Swiss. Kesepakatan tersebut dirancang sebagai kerangka untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Baca Juga: Komisi PBB Tuding Israel Targetkan Anak-anak Palestina dalam Operasi Militer di Gaza
"Menurut saya, kesepakatan AS tidak akan menyelesaikan masalah senjata nuklir, dan fase perang akan kembali lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang," katanya.
Pernyataan Zohar muncul di tengah meningkatnya kritik dari sejumlah kalangan di Israel terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump terkait kebijakan terhadap Iran. Sejumlah pejabat Israel mempertanyakan kemampuan kesepakatan tersebut dalam menghentikan pengembangan program nuklir Teheran.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa perjanjian tersebut bertujuan menurunkan eskalasi konflik serta mencegah terjadinya konfrontasi militer yang lebih luas di kawasan.
Israel serang Lebanon pada Jumat, 19 Juni 2026. (Antara)
Ketegangan antara Washington dan Tel Aviv juga terlihat dari pernyataan sejumlah pejabat AS. Pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance melayangkan kritik keras kepada beberapa menteri Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, karena menentang kesepakatan AS-Iran.
Presiden Donald Trump bahkan secara terbuka mengaku kecewa terhadap Netanyahu yang dianggap mempersulit proses perundingan dengan Iran. Trump juga menyatakan bahwa Israel seharusnya berterima kasih atas dukungannya, karena menurutnya tanpa campur tangan dirinya, negara tersebut tidak akan berada dalam posisi seperti saat ini.
Ilustrasi - Siluet tentara dengan latar belakang bendera Iran dan bendera Israel (Antara)