Cerita Penerima Manfaat Program 3 Juta Rumah: Tak Lagi BAB di Laut

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jun 2026, 18:00
thumbnail-author
Zaki Islami
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom RI), Muhammad Qodari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom RI), Muhammad Qodari (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta, 17 Juni 2026 — Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu prioritas pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik hunian, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Berbagai kisah warga menunjukkan bagaimana akses terhadap rumah layak dan pembiayaan perumahan mampu meningkatkan kualitas hidup, kesehatan, hingga kesejahteraan keluarga.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom RI), Muhammad Qodari, dalam konferensi pers terkait Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Jakarta, Rabu (17/6).

Salah satu cerita datang dari Jumadiah, warga kawasan pesisir Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Selama sekitar 10 tahun, ia hidup dalam keterbatasan tanpa akses listrik dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang memadai.

Setiap hari, Jumadiah berjualan gorengan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setelah suaminya mengalami stroke dan tidak lagi dapat bekerja secara normal.

Kondisi rumah yang tidak layak membuat aktivitas sehari-hari menjadi penuh tantangan. Ia harus mandi seadanya di depan dapur rumah, sementara untuk buang air kecil dan buang air besar (BAB) terpaksa dilakukan di laut.

Perubahan besar mulai dirasakan setelah rumahnya direnovasi melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah. Kini, Jumadiah dan suaminya dapat menikmati rumah yang lebih layak, nyaman, lengkap dengan akses listrik dan fasilitas sanitasi yang memadai.

Terbantu cicilan ringan

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari memberikan pemaparan percepatan program starategis di Auditorium Bakom, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026. <b>(Antara)</b> Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari memberikan pemaparan percepatan program starategis di Auditorium Bakom, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026. (Antara)

Kisah serupa juga dirasakan Idayani, seorang ibu tunggal dengan empat anak di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Sebelumnya, ia dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan sambil menjalankan usaha laundry untuk menghidupi keluarga.

Melalui program KPR Subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Idayani berhasil memiliki rumah sendiri di Perumahan Polinesia, Desa Wajipolat, Kecamatan Labuapi. Rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi keluarganya, tetapi juga menjadi lokasi untuk mengembangkan usahanya.

Menurut Idayani, skema FLPP dipilih karena menawarkan cicilan yang lebih terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan beban cicilan yang ringan, ia kini dapat mengatur keuangan keluarga dengan lebih baik, termasuk memastikan keempat anaknya tetap mendapatkan pendidikan.

Bisa renovasi indekos

Dampak Program 3 Juta Rumah juga dirasakan pelaku usaha kecil di sektor perumahan. I Ketut Suwija, pengusaha indekos dan properti, memanfaatkan Kredit Program Perumahan (KPP) untuk mengembangkan usahanya.

Ketut menilai proses pengajuan KPP relatif mudah dan membantu pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan. Dana yang diperolehnya akan digunakan untuk merenovasi unit indekos agar lebih nyaman dan memiliki nilai sewa yang lebih baik. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas kemudahan akses pembiayaan.

Qodari mengatakan kisah-kisah tersebut menjadi gambaran nyata manfaat Program 3 Juta Rumah bagi masyarakat di berbagai daerah.

“Kisah-kisah ini menjadi bukti bahwa Program 3 Juta Rumah, melalui berbagai jalur dan skema pembiayaannya, telah memberi dampak langsung bagi kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Qodari.

Menurutnya, program 3 juta rumah dirancang untuk membantu mengatasi backlog perumahan nasional dengan menjawab kebutuhan sekitar 9,9 juta keluarga yang belum memiliki rumah, sekaligus mendukung renovasi sekitar 26,9 juta rumah tidak layak huni di seluruh Indonesia.

x|close