Anggota Parlemen Israel Sebut Turki Negara Musuh, Erdogan Dinilai Ancaman

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jun 2026, 09:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Hubungan antara Israel dan Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan semakin tegang ( AP ). Hubungan antara Israel dan Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan semakin tegang ( AP ). (Reuters)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Anggota parlemen Israel, Ariel Kellner, menyatakan bahwa Turki harus dipandang sebagai negara musuh dan melabeli Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai sosok yang berbahaya.

Dilansir dari Middle East Eye, Sabtu, 13 Juni 2026, pernyataan tersebut disampaikan Kellner dalam wawancara dengan radio Israel, Galei, pada Kamis, 11 Juni 2026.

"Turki adalah negara musuh dalam segala hal dan Erdogan adalah diktator yang ingin mengembalikan kekhalifahan Islam," kata Kellner.

Ia kemudian menambahkan kritiknya terhadap pemimpin Turki tersebut.

"Dia adalah orang yang berbahaya yang sangat membenci Israel."

Pernyataan senada sebelumnya juga pernah dilontarkan Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar. Menurutnya, Turki seharusnya diperlakukan sebagai negara musuh.

Baca Juga: Stafsus Menag Gugun Gumilar Tinjau GKJ Banyuanyar, Tegaskan Komitmen Kawal Perizinan Hingga Tuntas

"Jika Turki memilih jalan untuk berperang dengan kami, tak bisa diragukan lagi mereka akan membayar harga mahal. Israel tahu cara mempertahankan diri," kata Zohar pada Mei lalu.

Komentar para pejabat Israel itu muncul setelah Erdogan menilai operasi militer Israel di Suriah dan Lebanon telah mencapai tingkat yang dapat mengancam keamanan Turki.

Presiden Turki tersebut juga memperingatkan bahwa tindakan militer Israel tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga berpotensi mengancam stabilitas global.

"Israel harus segera menghentikan, ini tugas kemanusiaan," ujar Erdogan.

Turki menjadi salah satu negara yang paling vokal mengkritik Israel, terutama sejak pecahnya konflik di Palestina pada Oktober 2023. Pemerintah Ankara secara konsisten mengecam operasi militer Israel di wilayah Palestina dan menyerukan penghentian kekerasan.

Konflik tersebut telah menyebabkan lebih dari 72.000 warga Palestina meninggal dunia, jutaan lainnya mengungsi, serta mengakibatkan kerusakan luas pada berbagai fasilitas sipil. Selain itu, pembatasan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza turut memicu krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Sebagai bentuk respons terhadap kebijakan pemerintah Israel yang dipimpin Benjamin Netanyahu, Turki memutus hubungan perdagangan dengan Israel dan memperkeras sikap diplomatiknya terhadap Tel Aviv.

Pernyataan terbaru dari sejumlah pejabat Israel tersebut menunjukkan semakin memburuknya hubungan antara Ankara dan Tel Aviv di tengah berlanjutnya ketegangan regional di Timur Tengah.

x|close